Syarief Abdullah Alkadrie : Meniti Karir Politik Dari Desa

Tanjung Saleh, 1966. Sebuah desa yang indah di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Berada di pesisir, desa ini dikepung sungai dan lautan. Luas daratannya sekitar 48,28 km². Mayoritas penduduknya ketika itu hidup sebagai nelayan. Sungai dan lautan memberi berkah tersendiri bagi penduduk desa. Di sisi lain, hamparan sawah juga terihat menghijau menghiasi landscape desa.

Syarief Abdullah Alkadrie

Untuk sampai ke desa Tanjung Saleh, harus melalui jalan darat dahulu sekitar 40 menit dari Pontianak ke dermaga desa. Lalu melanjutkan perjalanan dengan kapal motor sekitar 40 menit. Bila menggunakan speedboat bisa lebih cepat sekitar 20 menit. Syahdan, di desa ini hidup seorang petani sederhana dan religius. Bersama istri tercinta, ia sedang menanti kelahiran anak kelimanya.

Hari itu, seorang ibu tampak kelelahan dan tegang menjalani persalinan. Dibantu dukun persalinan desa, bayi berjenis kelamin laki-laki pun lahir. Kalender yang tergantung di dinding menunjukkan, Jumat, 14 Juni 1966. Tahmid tiada henti terucap dari bibir sang ibu menyambut kehadiran anak kelimanya. Bayi mungil menggemaskan itu diberi nama Syarief Abdullah Alkadrie yang kemudian akrab disapa Bang Doel.

Lahir di tengah keluarga sederhana dan religius, Bang Doel kecil tumbuh sehat. Ayahnya, Syarief Ahmad Alkadrie adalah tokoh masyarakat dan pernah menjadi kepala desa. Bang Doel mudah bergaul dengan siapa saja. Bersama sahabat-sahabat kecil, ia suka sekali bermain. Permainan favoritnya adalah kelereng. Untuk urusan bermain kelereng, Bang Doel kecil jagonya. Ia sering sekali menang bila bermain kelereng.

Selain kelereng, ia juga suka sekali bermain layang-layang. Senang rasanya mengingat masa kecil di desa. Setelah kelahiran Bang Doel, masih ada satu adiknya yang lahir kemudian. Jadi Bang Doel adalah anak kelima dari enam bersaudara pasangan Syarief Ahmad Alkadrie dan Sarifah Zahrah. Mengawali pendidikan dasarnya, Bang Doel bersekolah di SDN Tanjung Saleh, tahun 1974. Selain mendapat pendidikan dasar di SD, ia juga belajar agama di sebuah madrasah di desanya.

Kedua orangtua Bang Doel juga tak lupa mengajarinya membaca Al Quran sejak dini. Setiap pagi, ia pergi ke sekolah dengan berjalan kaki bersama sahabat-sahabatnya. Untuk sampai ke sekolah, ada sungai yang selalu harus diseberangi dengan sampan (perahu). Setamat SD tahun 1980, ia melanjutkan ke SMPN 16 Pontianak. Pelajaran sejarah adalah favoritnya. Baginya, membaca kegigihan perjuangan bangsa dalam sejarah sangat menginspirasi. Apalagi, selalu ada sosok dan kisah insipiratif yang bisa diteladani.

Bicara soal cita-cita sewaktu kecil, ia mendambakan menjadi pegawai negeri sipil. Ia melihat profesi PNS sangat mapan dengan penampilan yang selalu rapi. PNS jadi daya tariknya ketika kecil. Setamat SMP tahun 1983, dia meneruskan sekolahnya di SMAN 8 Pontianak. Bang Doel selalu terkenang berkongkow bersama teman-teman sekolah dulu. Berkumpul bersama jadi kenangan yang menarik sewaktu sekolah di Pontianak.

Panggung Politik

Setamat SMA tahun 1986, pemuda Bang Doel melanjutkan studi ke Universitas Tanjungpura, Pontianak. Di kampus ini ia mengambil jurusan hukum. Ia begitu tertarik duduk di fakultas hukum, lantaran ketika di SMA bercita-cita pula ingin menjadi jaksa. Di kampus dia aktif berorganisasi dan mengasah kapasitas intelektualnya.

Sebagai aktivis kampus, Bang Doel aktif di beberapa organisasi kepemudaan. Selain di senat mahasiswa, dia juga aktif di organisasi pramuka, GP Anshor, KNPI, hingga PBSI. Aktivitas berorganisasi membuatnya dikenal luas. Tahun 1992, Bang Doel tamat kuliah. Sebagai sarjana hukum, ia sempat bekerja di kantor pengacara milik temannya. Lalu, pada 1993 menjadi asisten dosen di kampus almamaternya untuk mata kuliah Ilmu Negara dan Hukum Administrasi Negara.

Di desanya, Anggota Dewan Penasihat GP Anshor ini, sudah aktif berpolitik. Ketika itu, masih bergabung dengan Partai Golkar. Aktivitas politik bagi Bang Doel sudah tak asing. Sejak belia ia sudah sering menyaksikan ayahnya beraktivitas politik. Kebetulan sang ayah aktif pula di Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama. Sang ayah kerap mengundang para aktivis organisasi masyarakat maupun politik ke rumahnya, mendiskusikan isu-isu kontemporer kala itu.

Pengalaman berorgnisasi membawanya pada aktivitas politik. Peraih Magister Ilmu Hukum itu, kali pertama berpolitik praktis bersama Partai Golkar di Pontianak. Ia sempat diangkat sebagai wakil sekretaris DPD Golkar Kota Pontianak. Tak lama kemudian hijrah ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Bang Doel dipercaya sebagai sekretaris Dewan Syuro, DPW PKB Kalbar.

“Sejak duduk di bangku SMA saya sudah mengikuti berbagai organisasi intra atau ekstra sekolah. Kemudian dilanjutan saat kuliah, aktif mengikuti senat mahasiswa dan organisasi kepemudaan. Itulah mungkin pintu awalnya sehingga bisa terjun ke dunia politik. Bahkan, ketika pertama kali memiliki hak pilih, tahun 1987, saya sudah tergabung dalam organisasi Partai Golkar di tingkat desa,” ungkap Bang Doel kepada Parlementaria.

Kiprah pertamanya sebagai legislator diawali sebagai Anggota DPRD Provinsi Kalbar selama dua periode dari Fraksi PKB. Mantan Ketua DPW PKB Kalbar itu, berkiprah mulai tahun 1999 hingga 2009. Memasuki pemilu 2009, Bang Doel hijrah ke Partai Nasional Demokrat (NasDem). Di partai baru itu, ia langsung dipercaya menduduki jabatan Ketua DPW Partai NasDem Kalbar.

Mantan Andalan Nasional Kwarnas Gerakan Pramuka ini, baru melangkah menjadi legislator DPR RI pada pemilu 2014 dari dapil Kalbar I. Nama yang sudah dikenal luas, membuat Bang Bang Doel mudah melenggang ke Senayan. Akhirnya, ia terpilih menjadi legislator DPR RI dan duduk di Komisi II bidang politik dalam negeri. Lalu, sempat pindah ke Komisi III bidang hukum dan Komisi V yang membidangi infrastrktur.

Bagaimana rasanya duduk pertama kali sebagai wakil rakyat di Senayan? “Rasa pertama yang muncul saat dilantik sebagai Anggota DPR RI adalah bersyukur. Gedung yang biasanya hanya dilihat dari jauh, kini saya berkantor di dalamnya. Saya juga membawa amanah dari masyarakat untuk memperjuangkan seluruh kepentingan masyarakat luas, salah satunya masyarakat Kalimantan Barat,” ucapnya.

Pada pemilu 2019, Bang Doel kembali terpilih untuk periode keduanya (2019-2024) sebagai legislator di Senayan. Kali ini ia dipercaya fraksinya sebagai Wakil Ketua Komisi V DPR RI. Jabatan yang sangat penting dan strategis. Meniti karir politik dari desa nun jauh di Kubu Raya, Kalbar, hingga akhirnya mencapai puncak. Inilah perjuangan anak seorang petani sederhana dan religius di panggung politik nasional.

Bahagia Bersama Keluarga

Kesibukan menjadi wakil rakyat telah menyita waktu kebersamaanya dengan keluarga. Namun, ketika berada di tengah-tengah keluarga, tentu ia manfaatkan dengan kualitas pertemuan yang baik. Keluarganya sudah memahami kesibukan Bang Doel sebagai wakil rakyat sejak masih menjadi anggota DPRD Kalbar. Bila tak ada kesibukan dengan konstituen di dapilnya, ia selalu ada bersama keluarga.

Di rumah, Bang Doel tetaplah seorang ayah dan suami yang bersahaja. Ada Hadijah Fitriah, istri tercinta yang setia mendampingi keseharian mantan Komisaris PT. Bumi Persada Khatulistiwa ini. Dari pernikahannya dengan Hadijah, ia dikaruniai tiga buah hati. Ada dua putri cantik di rumahnya, Nabila Mardiyah Alkadrie dan Najwa Ulfa Alkadrie. Tak ketinggalan ada si bungsu yang gagah Syarief Ahmad Naufal.

Soal destinasi wisata favorit, Bang Doel kerap mengajak keluarganya berwisata religi dengan mengunjungi makam para aulia. Sesekali juga berwisata ke Yogyakarta dan kota-kota lainnya yang unik dan nyaman. “Kadang kala kami melakukan umrah sekeluarga meskipun tidak setiap tahun. Jika ada waktu yang cocok, ya pergi,” ungkap pehobi badminton dan bersepada itu.

Sebagai orangtua, mantan dosen Universitas Panca Bhakti, Pontianak ini, tak mengarahkan putra putrinya mengikuti jejak dirinya sebagai politisi. Ia membebaskan pilihan profesi bagi ketiga buah hatinya itu. “Saya hanya memfasilitasi saja apa yang dibutuhkan. Menurut saya, kalau ingin jadi apapun harus dijalani dulu prosesnya, sehingga hasilnya bisa tumbuh dengan baik. Tidak bisa instan. Saya berpesan agar anak-anak terus termotivasi melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya.” l mh/es

Rasa pertama yang muncul saat dilantik sebagai Anggota DPR RI adalah bersyukur. Gedung yang biasanya hanya dilihat dari jauh, kini saya berkantor di dalamnya. Saya juga membawa amanah dari masyarakat untuk memperjuangkan seluruh kepentingan masyarakat luas, salah satunya masyarakat Kalimantan Barat

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)