Syamsurizal: Makin Banyak Ilmu Yang Kita Miliki, Makin Banyak Nikmat Yang Kita Dapat

Syamsurizal atau Bang Syam, nama tersebut tak asing lagi bagi masyarakat Riau, terkhusus masyarakat Kabupaten Bengkalis. Sosok Anggota DPR RI yang dikenal hangat dan dekat dengan masyarakat itu pernah menjabat sebagai Bupati Bengkalis selama dua periode.

Dilahirkan di Selatpanjang, Kepulauan Meranti, Provinsi Riau 66 tahun lalu, tak banyak yang bisa dikenang oleh Syamsurizal dengan kota kelahirannya. Karena sejak usia 5 tahun, Syamsurizal sudah ikut orang tuanya pindah ke Bengkalis. Dan di Bengkalis pula lah Syamsurizal menyelesaikan masa pendidikannya dari Taman Kanak-Kanak hingga SMA.

Selatpanjang tempat Syamsurizal dilahirkan, sekarang merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Meranti. Dahulunya, Selatpanjang merupakan salah satu bandar atau kota yang paling sibuk dan terkenal perniagaan di Kesultanan Siak. Di Bandar ini masyarakatnya sudah heterogen, terutama suku Melayu dan Tionghoa. Kedua suku tersebut terbentuk erat dalam keharmonisan baik kegiatan kultural maupun perdagangan. Semua ini tidak terlepas ketoleransian antar persaudaraan. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang barang maupun manusia dari China ke nusantara dan sebaliknya 

Di Selatpanjang, ayah Syamsurizal merupakan seorang pekerja swasta yang cukup sukses. Atas capaiannya, ayah Syamsurizal diminta untuk menjadi patih (asisten) di Pemerintahan Bengkalis. “Karena di Bengkalis itu sudah mulai digunakan sebagai pusat pemerintahan, jadi orang tua saya ini ditarik untuk membantu pemerintahan di sana. Kalau dulu namanya Patih,” kenang Syamsurizal.

Seperti kebanyakan anak-anak seusianya, Syamsurizal tumbuh kembang dengan hobi olahraga, salah satunya adalah sepak bola. Di samping itu, Syamsurizal dikenal sebagai anak yang sangat menggilai buku, apalagi buku-buku yang berkaitan dengan keagamaan. Diakuinya, kemanapun ia pergi, buku harus selalu ada.

Tak terkecuali ketika sedang bermain sepak bola, ia tetap menyempatkan diri untuk menambah wawasan dengan membaca buku. “Duduk itu bacaannya buku.  Main sepak bola, saat menjadi penjaga gawang kan kebanyakan duduk, sebelum bola datang, saya pegang buku (menyempatkan membaca buku). Dimana- mana senantiasa saya bawa buku. Alhamdulillah sampai sekarang yang namanya baca tuh, hobi banget,” terangnya.

Ketika ditanya mengenai buku favoritnya, Wakil Ketua Komisi II DPR RI ini mengaku menyukai buku-buku agama terutama yang bercerita tentang sejarah Nabi Muhammad SAW. Salah satu buku yang menjadi favoritnya adalah buku berjudul ‘Siti Aminah Ibunda Rasulullah’.

Buku yang berkisah tentang perjalanan ayahanda dan ibunda Rasulullah itu mampu membuat Syamsurizal menangis tersendu-sendu. “Jadi ketika saya membaca buku itu, bercucuran air mata. Sedih bagaimana membayangkan Nabi Muhammad SAW kala itu. Saya baca buku itu mesti sembunyi, jangan di depan istri saya, nanti ditanya, kenapa pula abang menangis,” tutur Syamsurizal dengan logat melayu yang kental.

Meski sang ayah bekerja di pemerintahan, Syamsurizal tidak ingin membebani kedua orang tuanya. Sembari menempuh pendidikan di Universitas Riau, Syamsurizal mulai membiasakan hidup mandiri. Ia berupaya mencukupi kebutuhan hariannya dengan menjadi guru private Bahasa Inggris ke rumah-rumah. 

“Hasilnya pun lumayan, bisa untuk membayar uang kuliah hingga menraktir teman-teman,” ucapnya.

Awal mula menjadi guru les ini pun cukup unik. Ketika sedang meng-copy tugas kuliah di sebuah toko dengan temannya, beberapa pelajar perempuan yang menghampiri  mereka dan menanyakan di mana mencari guru les yang bisa mengajar di rumah. Tahu bahwa Syamsurizal cukup fasih berbahasa Inggris, temannya tersebut langsung merekomendasikan Syamsurizal kepada para pelajar tadi. Alhasil, ia pun menjadi guru les Bahasa Inggris dan mulai saat itu, ia terus mengasah kemampuannya berbahasa Inggris.

Motivasinya makin terpacu, tatkala mengetahui kakak dari murid lesnya ada yang fasih juga berbahasa Inggris. Tentu saja makin membakar semangatnya agar tak kalah dengan kakak muridnya tersebut.

“Dari situ saya jadi ‘terpaksa’ belajar Bahasa Inggris. Jadi, gimana nih kalau saya kalah, akhirnya saya terus pelajari. Waktu itu saya kan masih belum menikah, jadi semangat belajar sangat tinggi apalagi murid saya perempuan,” ungkapnya.

Berawal dari itu, Syamsurizal akhirnya membuka kursus Bahasa Inggris hingga memiliki julukan khusus yaitu Mr. Teddy. Menurutnya pada masa itu nama Mr. Teddy, adalah sapaan yang keren. “Dulu nonton tv ada nama Teddy keren banget tuh, jadi itu saja yang dipakai,” ujarnya sambil tertawa.

Ketika menjadi pegawai negeri, Bahasa Inggris pula yang membuat Syamsurizal sering dipercaya untuk mengikuti pelatihan-pelatihan di luar negeri. “Dulu orang yang bisa Bahasa Inggris itu bisa dihitung jari. Saya aktif berbahasa Inggris jadi sering diminta untuk pelatihan-pelatihan ke luar negeri,” terang pria yang sudah menjadi PNS sejak tahun 1977 ini.

Dalam berbahasa, yang paling penting menurutnya adalah mengerti apa yang diucapkan. Oleh karena itu, dirinya selalu menekankan untuk mempelajari bahasa dengan listening first. “Apa yang diucapkan oleh orang, ditangkap oleh telinganya, dan dikeluarkan oleh mulutnya. Itulah pola pembelajaran berbahasa yang saya terapkan,” jelas alumnus Malaya University ini.

Bang Syam ketika menyapa konstituennya. Foto: dok

Ia sering berdiskusi dengan  guru-guru Bahasa Inggris untuk menanamkan listening first kepada murid alih-alih mengajarkan grammar terlebih dulu.

Bagi Syamsurizal, mahir berbahasa Inggris memiliki banyak kenikmatan. “Ketika kita nonton TV kan enggak repot lagi kita membaca teksnya (subtitle). Jadi menjadi sebuah kenikmatan. Semakin banyak ilmu yang kita dapat semakin banyak nikmat yang kita dapat,” terangnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan Strata-1 nya, Syamsurizal mengawali karier dengan menjadi Pegawai Negeri Sipil. Kariernya semakin meningkat hingga pernah menjadi Kepala Biro Keuangan dan Kepala Dinas Pendapatan Daerah di Provinsi Riau. 

Pada tahun 2000, tepat di usia 45 tahun, ia kemudian mencalonkan diri menjadi Bupati Bengkalis. Di mana, saat itu metode pemilihan kepala daerah masih dilakukan oleh DPRD. Kala itu, DPRD Bengkalis sepakat memilih Syamsurizal menjadi Bupati Bengkalis periode 2000-2005.

Lima tahun kemudian, ia kembali mengikuti kontestasi pemilihan kepala daerah yang kali ini sudah menggunakan sistem pemilihan langsung oleh rakyat. Dan lagi-lagi berkat kerja keras dan kerja ikhlasnya di periode pertama, Syamsurizal kembali terpilih menjadi Bupati Bengkalis 2005-2010 untuk kedua kalinya.

“Jadi kita polos aja kerja, keluar masuk kampung, yang namanya blusukan itu kita udah ada dari dulu. Ke pasar, nongkrong di kedai kopi. Jadi akhirnya anak-anak sekolah pun kenal,” ujarnya. 

Semasa menjadi Bupati, Syamsurizal memang dikenal gemar menemui anak-anak di sekolah. Bahkan ia sampai membuatkan ribuan sepatu di Bandung untuk dibagi-bagikan ke para pelajar di Bengkalis. “Ini jangan buat main bola dulu ya, buat sekolah aja dulu, biar ngga cepat rusak,” pesannya seraya memasangkan sepatu baru kepada anak-anak sekolah. 

Hal ini pula yang diakuinya menjadi salah satu faktor yang membuatnya dipercaya menjadi wakil rakyat dapil Riau I. Pasalnya, anak-anak yang dulu pernah diberi dan dipasangkan sepatu olehnya, kini sudah mulai besar dan sudah memiliki hak pilih.

Sosok yang berbakti

Bang Syam bersama keluarga besarnya. Foto: dok

Tahun 1994, saat baru menyelesaikan pendidikannya di New Zealand, Syamsurizal mengajak ibundanya untuk menunaikan ibadah haji. Hal ini bukanlah perkara mudah bagi Syamsurizal, mengingat ia harus menyisihkan uang saku selama menempuh pendidikan di New Zealand.

Sebelum mendaftar sebagai calon jemaah haji, Syamsurizal terlebih dahulu meminta ijin kepada istrinya untuk berangkat menunaikan rukun Islam ke lima bersama ibunya. Hal ini dikarenakan istrinya sudah tersebih dahulu menunaikan ibadah haji bersama keluarganya. Kala itu, ia meminta ijin untuk menggunakan sisa uang sisa studinya, karena menurutnya sebagian uang itu adalah hak istrinya.

“Ini dek, uang sisa pendidikan di New Zealand. Abang ingin naik haji bersama mak (ibu) abang, adek ikhlas?” tanya Syamsurizal kepada istrinya. Tanpa keberatan, sang istri pun mengiyakan dan mengijinkannya permintaan mulia dari suaminya itu.

Setelah memperoleh restu dari sang istri, akhirnya Syamsurizal mendaftarkan keberangkatan bersama ibunya untuk menunaikan ibadah haji. Mendaftar haji pada masa itu terbilang cukup mudah dan tidak ada daftar tunggu yang cukup lama.

Syamsurizal tak pernah menyangka, dua hari menjelang kepulangan jemaah haji ke Indonesia, ibundanya mendadak sakit. Ia merawat, menggendong serta terus menunjukkan bakti seorang anak kepada ibunya. Tuhan berkehendak lain, ibunya dipanggil menghadap Sang Khaliq tepat di pangkuan Syamsurizal. “Saya membisikkan kalimat tauhid “Laa ilaha illallah,” kenangnya sambil dengan mata berkaca.

Ada perasaan, syukur dan terharu di diri Syamsurizal kala menyaksikan jenazah sang ibunda tercinta yang disholatkan dan didoakan oleh jutaan jemaah haji di hadapan Ka’bah. “Saya terharu karena jutaan jemaah mendoakan ibu saya, disholatkan di depan Ka’bah,” ujar Syamsurizal. Konon katanya jika seseorang meninggal saat melaksanakan ibadah haji, maka jalan menuju alam barzah akan dipermudah. Ia-pun berharap demikian.

Bagi Syamsurizal, membahagiakan orang tua adalah hal utama, terutama jika orang tua masih hidup. Di masa-masa mudanya, untuk menunjukkan rasa hormat kepada sang ibu, Syamsurizal pernah berjalan dengan berjinjit agar tidak menimbulkan suara yang mengganggu istirahat ibunya. Ia pun berpesan agar selalu berbakti kepada kedua orang tua, apalagi ketika kedua orang tua masih hidup, agar tidak menyesal di kemudian hari.

Ajarkan Kecintaan Terhadap Alquran

Syamsurizal dan dan istri bertemu saat sedang menyelesaikan pendidikan S1-nya. Sang istri merupakan mahasiswi di Akademi Sekretaris Managemen Indonesia (ASMI). Meski sang istri berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti orang tuanya. Ternyata cinta mereka berdua tak lekang oleh jarak. “Karena memang jodoh, kami menikah di Palembang,” ucap Syamsurizal.

Bersama sang istri, Syamsurizal berkomitmen untuk menanamkan pendidikan keagamaan kepada keenam anaknya seperti apa yang ia dapatkan dari kedua orang tuanya terdahulu. “Yang pertama saya tanamkan ke anak saya adalah agama. Karena saya dulu pun pagi sekolah umum, sore sekolah madrasah,” jelasnya. Menurutnya, belajar dan memaknai Al-Quran adalah hal yang utama. 

Untuk mengisi hari-harinya, politisi partai berlambang Ka’bah (PPP) ini tak pernah lupa membaca dan mendalami makna yang terkandung dalam kitab suci Alquran setiap pagi dan sore. Ini dilakukannya rutin setiap hari agar diberikan selamat dan dilindungi dalam setiap perbuatannya sehari-hari. “Dengan Al-Quran, kita berharap dapat memberi syafaat untuk kita di alam barzah nanti,” pesan Syamsurizal. l bia, es

Wakil Ketua Komisi II DPR RI Syamsurizal. Foto: Geraldi/nvl
Jadi kita polos aja kerja, keluar masuk kampung, yang namanya blusukan itu kita udah ada dari dulu. Ke pasar nongkrong di kedai kopi. Jadi akhirnya anak-anak sekolah pun kenal

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)