Sinyal Darurat Hadapi Terorisme

Aksi teror Maret lalu menyalakan sinyal darurat. Perang melawan terorisme sudah ditabuh sejak lama. Teror seperti tak bertepi untuk terus dihadapi. Polri harus mengaudit sistem keamanan yang selama ini ada. Fungsi intelijen pun didesak untuk diperkuat. 

Ketua Komisi III DPR RI
Herman Hery. Foto: Dok/nvl

Dua rentetan aksi teror memantik kembali semangat bangsa ini menghadapi terorisme. Aksi kutuk terhadap terorisme memenuhi dunia maya dan ruang publik, seraya mempertanyakan peran Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan fungsi intelijen negara. Mengapa selalu kecolongan?

Tak ketinggalan berbagai keterangan pers berdatangan ke redaksi Parlementaria dari para anggota DPR RI. Isinya kutukan terhadap terorisme dan seruan memperkuat otoritas aparat menghadapi para teroris. Sudah banyak rumah ibadah di Tanah Air dibom oleh para teroris. Tapi, ketika teroris mengintersep Markas Besar Polri di Jakarta, ini jadi pertanyaan mendalam. Bahkan, yang meneror adalah seorang perempuan bersenjata.

Audit atas sistem keamanan pun jadi keniscayaan untuk segera dilakukan. Mengapa sistem keamanan Polri begitu lemah? Padahal, teroris datang silih berganti, tak mengenal waktu. Korban berjatuhan begitu banyaknya. Teror telah meninggalkan trauma bagi masyarakat. Kepedulian pun bermunculan antarsesama pemeluk agama. Simpati kepada para korban dan kutukan kepada para teroris berkumandang.

Parlementaria mendapat keterangan pers dari Ketua Komisi III DPR RI Herman Hery, Maret lalu. Isinya kutukan atas tragedi tersebut. Katanya, ini merupakan sinyal darurat atas penanggulangan terorisme selama ini. Ya, darurat karena sang teroris yang menyerang Mabes Polri adalah wanita. Tentu ini darurat bagi Polri, BNPT, dan Badan Intelijen Negara (BIN).

Peristiwa ini pasti melukai rasa kemanusiaan. Agama mana pun tidak membenarkan aksi tersebut. “Oleh sebab itu, saya mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas jaringan terorisme di Indonesia,” seru Herman. Di sisi lain, ia masih mengapresiasi kesigapan Polri dalam menghalau serangan teror di Mabes Polri yang dilakukan seorang wanita dengan menodongkan senjata. Tindakan Polri dinilainya sudah terukur.

“Petugas pengamanan telah melakukan tindakan yang terukur untuk mencegah eskalasi aksi teror tersebut,” ujar politisi PDI-Perjuangan itu. Dua aksi teror di Makassar dan Jakarta terjadi berdekatan waktunya. Ini sekali lagi seperti menyalakan sinyal darurat untuk perang melawan terorisme. Polri, BNPT, dan BIN pasti tidak bisa berdiam saja. Penyelidikan atas tragedi teror tersebut pasti sudah pula dilakukan.

Herman Hery. Foto: Dok/nvl
Sudah banyak teroris yang ditangkap dan diadili, bahkan dieksekusi mati. Namun, seperti tak jera dan tak ada habisnya teroris baru bermunculan dengan modus dan sasaran yang berbeda. Penangkapan itu belum berujung efektif dalam memberantas aksi terorisme di Tanah Air. Maka menurutnya, fungsi intelijen harus diperkuat untuk mendeteksi sedini mungkin rencana aksi-aksi terorisme sekaigus menyusun pencegahannya.

Dalam rilisnya, Herman menulis, sudah banyak teroris yang ditangkap dan diadili, bahkan dieksekusi mati. Namun, seperti tak jera dan tak ada habisnya teroris baru bermunculan dengan modus dan sasaran yang berbeda. Penangkapan itu belum berujung efektif dalam memberantas aksi terorisme di Tanah Air. Maka menurutnya, fungsi intelijen harus diperkuat untuk mendeteksi sedini mungkin rencana aksi-aksi terorisme sekaigus menyusun pencegahannya.

“Saya Ketua Komisi III DPR RI meminta kepada Polri dan BNPT sebagai mitra kami untuk memperkuat fungsi intelijen dalam mendeteksi kejadian serupa di kemudian hari. Kejar dan tangkap pelaku teror ini hingga akarnya,” harap legislator dapil Nusa Tenggara Timur II itu. Masyarakat harus dilindungi dari bahaya teror. Apalagi umat Islam segera menghadapi hari raya Idul Fitri.

Mungkin setelah ini masih akan ada teror-teror lain yang menghantui. Tapi, seperti disampaikan oleh Presiden Joko Widodo, negara tidak boleh kalah dengan terorisme. Semua menyerukan agar BNPT dan Densus 88 segera memberantas terorisme hingga ke akar-akarnya. Mereka yang terpapar paham radikal harus segera diluruskan dengan pendekatan yang pas.

BNPT memang dituntut profesional menyelidiki sarang-sarang terorisme hingga ke sel-selnya yang terkecil. Pendekatan dan metode penanggulangan terorisme di Tanah Air mungkin perlu dibenahi. Ketika menghadapi aksi teroris yang sudah melenyapkan banyak nyawa manusia tak berdosa, memang harus keras tanpa kompromi. Namun, menghadapi keluarga dan lingkungan tempat tinggal teroris mungkin butuh pendekatan lain yang lebih lembut.

Pendekatan persuasif dibutuhkan untuk menggugah keluarga teroris agar menjauh dari paham radikal dan lebih toleran terhadap perbedaan. Menghadapi teroris tak melulu dengan kekerasan. Ada saatnya kelembutan menjadi senjata pamungkas melawan aksi terorisme selama ini. Sinyal darurat sudah menyala. Metode penanggulangan pun harus berjalan beriringan dengan ketegasan dan kelembutan. l mh/er

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)