Riri Anggraheni Ajak Kikis Stigma Terhadap ODGJ

“Keterbatasan informasi mengenai kesehatan mental belum banyak dipahami oleh masyarakat. Hal itu membuat penilaian masyarakat terhadap pengidap gangguan kesehatan mental menjadi negatif”

Riri Anggraheni Ajak Kikis Stigma Terhadap ODGJ

Kesehatan mental masih menjadi masalah yang belum dapat sepenuhnya diselesaikan. Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, menunjukkan kisaran 12-19 juta penduduk berusia 15 tahun keatas mengalami gangguan mental emosional dan depresi. Data ini menunjukkan bahwa Indonesia masih darurat masalah kesehatan mental. Belum lagi stigma masyarakat terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) masih tinggi. Salah satu faktor yang menyebabkan stigma ini adalah rendahnya pemahaman masyarakat terhadap kesehatan mental.

Tim redaksi Majalah Parlementaria berkesempatan berbincang langsung dengan Riri Anggraheni Eka Rimandasari, yang merupakan aktivis kesehatan mental yang juga alumnus kesehatan masyarakat sekaligus pendiri komunitas Peduli ODGJ Indonesia.

Kepada Parlementaria, Riri memaparkan visinya mendirikan Peduli ODGJ Indonesia di tahun 2020 yaitu untuk mengikis stigma, mengedukasi masyarakat dan menggandeng banyak pihak dalam mengatasi masalah kesehatan mental. Berikut penuturannya.

Alasan apa yang membuat Riri mendirikan Organisasi Peduli ODGJ Indonesia ?

Di tahun itu saya didiagnosis post-traumatic stress disorder (PTSD). Karena pengalaman saya tentang kesehatan mental di Indonesia, maka saya mengajak rekan yang punya masalah serupa untuk tidak hanya terkungkung dengan masalah sendiri tapi take action.

Kalau kita hanya fokus pada masalah diri sendiri dan meratap, mungkin bakal jadi lingkaran setan yang tidak berpangkal. Tapi ketika bikin aksi kita akan merangkul dan bisa jadi berkat buat banyak orang. Setidaknya bikin ‘social project(proyek sosial) yuk!” ucap saya saat itu.

Awalnya saya dan teman-teman membuat program donasi. Lalu perlahan mulai membuat komunitas karena keinginan kami proyek ini berdampak hingga jangka panjang. Saat itu saya dan rekan membuat postingan di berbagai media sosial. Kami sepakat memakai tagar #CureStigma dan #ShareKindness karena visi kami mengikis stigma terhadap ODGJ. Saat rekrutmen relawan sekaligus kampanye proyek donasi pertama, kami buat sesi sharing dimana relawan yang memiliki kepedulian dan pengalaman terhadap kesehatan mental mencurahkan isi hatinya dan bertekad bergabung untuk bisa ‘healing bersama’.

Bagaimana menurut Riri pandangan masyarakat Indonesia terhadap pengidap gangguan kesehatan mental ?

Keterbatasan informasi mengenai kesehatan mental belum banyak dipahami oleh masyarakat. Hal itu membuat penilaian masyarakat terhadap pengidap gangguan kesehatan mental menjadi negatif, sehingga pengidap menganggap gangguan yang terjadi dalam dirinya adalah aib.

Kesadaran masyarakat yang rendah tidak jarang mengakibatkan munculnya diskriminasi terhadap pengidap gangguan mental. Bentuk diskriminasi tersebut berupa perlakuan kasar, penghinaan, maupun perundungan. Tak jarang pula masyarakat menjauhi pengidap tersebut beserta keluarga. Akibat dari stigma atau nilai buruk yang diberikan kepada penderita membuat orang yang membutuhkan bantuan tenaga ahli enggan untuk ditangani. Tak jarang, pengidap gangguan mental malu untuk berada di masyarakat.

Lalu bagaimana cara menghadapi stigma terhadap gangguan kesehatan mental?

Berdasarkan data dari sisi ODGJ dan Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) ada beberapa hal yang perlu dilakukan ketika berhadapan dengan stigma. Diantaranya, mendapatkan pengobatan yang tepat, tidak mengisolasi diri atau meminta dukungan dari orang terdekat yang kita percaya, lalu bergabung dengan kelompok pendukung atau komunitas.

Selain itu, menurut saya, pemerintah dan masyarakat juga perlu melakukan berbagai upaya mulai dari mengedukasi, menerapkan sistem pelayanan serta sarana-prasarana kesehatan jiwa yang komprehensif, terintegrasi dan berkesinambungan di masyarakat.

Tak lupa menggerakkan masyarakat untuk melakukan upaya preventif dan promotif serta deteksi dini gangguan jiwa dan melakukan upaya rehabilitasi serta reintegrasi ODGJ di masyarakat. Serta pemberdayaan ODGJ agar hidup mandiri, produktif di tengah masyarakat tanpa stigma dan diskriminasi.

Lalu, kita sebagai generasi muda perlu melakukan berbagai aksi seperti edukasi melalui media sosial dengan menggandeng pemerintah dan instansi kesehatan untuk melakukan aksi penyuluhan bersama. Juga penyuluhan di instansi pendidikan untuk menyuarakan isu kesehatan mental dan mengikis stigma, dan lainnya.

Apakah saat ini Riri merasa akses terhadap kesehatan mental belum merata?

Memang betul saat ini akses rujukan pelayanan kesehatan jiwa belum merata di seluruh daerah. Atau masih terpusat di Pulau Jawa. Dalam hal ini pemerintah memang punya pekerjaan rumah dalam mengurangi masalah akses dengan penataan pelayanan kesehatan yang komprehensif. Lalu, dari sisi SDM sendiri sebenarnya kita juga mengalami masalah inovasi yang minim dan ketersediaan dokter jiwa, psikolog klinis dan perawat jiwa yang sedikit.

Dukungan seperti apa yang Riri dan pejuang mental illness galakkan kepada orang-orang yang membutuhkan?

Melalui Peduli ODGJ Indonesia, saya dan teman-teman mengadakan beberapa program untuk membantu ODGJ serta mengubah stigma masyarakat terhadap kesehatan mental. Seperti edukasi, melalui beragam saluran di media sosial.

Lalu berkolaborasi dengan komunitas lain. Dimana kami bersama komunitas lainnya mengadakan program charity maupun edukasi bersama melalui platform pilihan. Tujuannya selain mengubah stigma, kami berusaha membantu melalui donasi bersama untuk disalurkan kepada Yayasan ODGJ yang diperuntukkan bagi kebutuhan pokok ODGJ serta pengobatannya.

Kami juga melakukan kunjungan rutin ke panti ODGJ untuk memberikan dukungan moral dan program donasi langsung ke instansi atau melalui platform Kitabisa dan rekening koordinator. Kami juga melakukan penggalangan donasi yang diperuntukkan untuk membantu ODGJ baik dari segi kebutuhan pokok, pengobatan, pembangunan panti dan sebagainya dimana kami salurkan langsung kepada panti.

Jadi, bagi teman-teman yang mau membantu sebagai aktivis kesehatan mental, ada banyak hal dan aktivitas program yang bisa dilakukan untuk membantu ODGJ, baik melalui daring maupun luring. Yuk, bersama kita ubah stigma terhadap ODGJ dan tingkatkan kesadaran masyarakat terkait kesehatan mental!. •rnm/aha

Riri Anggraheni Ajak Kikis Stigma Terhadap ODGJ

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)