Resiliensi dan Perjalanan Panjang Pandemi

Perubahan bukanlah sesuatu yang baru. Pada 21 Maret 2020, World Health Organization (WHO) secara resmi menetapkan Covid-19 sebagai pandemi global. Setelahnya, kita memasuki era baru dengan munculnya berbagai tantangan dan perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tingginya tingkat ketidakpastian dan pergantian kondisi yang berlangsung secara cepat, memaksa kita untuk mampu beradaptasi dengan setiap perubahan yang terjadi. Terkait adaptasi, resiliensi termasuk dalam daftar teratas karakteristik yang diperlukan seseorang dalam menghadapi situasi pandemi.

Oleh: Nisa Rengganis Content Data Encoder - Quipper Indonesia

Resiliensi (ketangguhan) didefinisikan sebagai kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit (Reivich dan Shatté, 2002). Semakin baik kita dapat pulih setelah kita mengalami sesuatu yang sulit atau stres, semakin baik kita terlindungi dari efek buruk stres. Itulah mengapa resiliensi tidak hanya dapat membantu kesejahteraan mental kita, tetapi juga dapat membantu kesehatan fisik kita (Gaffey, Bergeman, Clark, & Wirth, 2016).

Sayangnya, resiliensi bukanlah karakteristik yang sudah tersedia sejak kita dilahirkan. Karakter ini dikembangkan melalui berbagai pengalaman yang dilalui seseorang dalam hidupnya. Setiap krisis, seperti pandemi virus corona saat ini, dapat menguji resiliensi. Psikolog telah mengidentifikasi beberapa faktor yang tampaknya membuat seseorang lebih tangguh, seperti sikap positif, optimisme, kemampuan untuk mengatur emosi, dan kemampuan untuk melihat kegagalan sebagai bentuk umpan balik yang bermanfaat.

Berikut beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan resiliensi dalam diri kita.

Reduksi sumber stres

Mereduksi sumber stres berkaitan erat dengan kemampuan kita dalam melakukan regulasi emosi. Berfokus hanya pada aspek-aspek situasi yang berada di bawah kendali kita, dapat membantu kita menghadapi hampir semua krisis.

Mengisi pengalaman positif melalui hubungan yang bertanggung jawab

Membicarakan kesulitan hidup tidak membuat kesulitan tersebut serta merta menghilang, tetapi berbagi dengan teman yang mendukung atau orang yang dicintai dapat membuat kita merasa memiliki seseorang di sisi kita. Hubungan sosial yang positif, stabil, saling mendukung, dan bertanggungjawab sangat berperan dalam meningkatkan resiliensi seseorang

Melatih kekuatan diri yang dimiliki

Kebiasaan sehat-cukup tidur, makan dengan baik, dan berolahraga-dapat mengurangi stres, yang pada gilirannya dapat meningkatkan ketahanan. Selain itu, memahami makna dari setiap kejadian dan hidup sesuai nilai-nilai yang dimiliki akan membuat kita lebih mudah menerima sebuah perubahan.

Melakukan Perjalanan Jauh Setelah Pandemi

Pandemi tidaklah selamanya menjadi ancaman besar. Seiring dengan berkembangnya kemampuan adaptasi yang dimiliki, kita menjadi ‘terbiasa’ hidup berdampingan dengan Covid-19. Kualitas layanan kesehatan yang terus meningkat, pengukuran

dan penanganan yang cepat dan tepat, serta program vaksinasi yang gencar dilakukan turut berperan dalam perubahan kondisi ini.

Ketika tingkat vaksinasi meningkat dan pembatasan Covid-19 mulai berkurang, aktivitas sehari-hari perlahan-lahan kembali normal. Salah satu aspek kehidupan yang terlihat kembali berjalan ‘normal’ setelah dua tahun pandemi adalah mobilitas sosial. Pada masa pandemi, mobilitas sosial sangat dibatasi bahkan tidak mungkin untuk dilakukan. Namun, mulai tahun 2022 terjadi perubahan kebijakan di mana pemerintah kembali memperbolehkan perjalanan jarak jauh yang melibatkan banyak orang seperti mudik dan keberangkatan haji.

Melakukan perjalanan di masa pandemi dan setelahnya bukanlah hal yang mudah. Ketika kita memilih untuk berpergian, ada kekhawatiran dan kesulitan, terkait perubahan yang mungkin terjadi dan hal ini membuat stres.

Satu hal yang dapat kita pastikan adalah bahwa dunia akan terus berubah. Tuntutan baru akan terus muncul dan memaksa kita untuk beradaptasi. Perubahan membuat stres. Bahkan perubahan positif dapat menyebabkan stres karena menuntut kita untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Oleh karena itu, kemampuan resiliensi diperlukan dalam menghadapi berbagai perubahan dan menjaga kita untuk hidup sehat secara fisik dan mental. •

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)