Refi Mascot : Galeri Bau Tanah Gunakan Area Publik sebagai Ruang Berekspresi

Refi Mascot adalah seorang fotografer budaya yang menggagas penggunaan publik area untuk kegiatan pameran fotografi dan ruang berekspresi. Namanya memang tidak setenar fotografer professional yang ada di Indonesia, namun kiprahnya dalam mencetuskan ide penggunaan area publik sebagai ruang berekspresi membuat sebahagian orang kagum padanya.

Refi Mascot. Foto: Ist

Di dinding luar Stasiun Kereta Api Cikini Jakarta, Komunitas Galeri Bau Tanah yang dipimpinnya menggelar pameran foto. Hal itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya Stasiun Cikini direnovasi dan Galeri Bau Tanah tidak bisa lagi menjadikannya sebagai ruang berekspresi.

“Dan ketika kondisi bangunan Stasiun direnovasi maka semuanya juga berubah. Pada era itu kita sangat kekurangan ruang berekspresi dan ruang bermain. Untuk mengiklankan diri juga susah. Fotografer yang mengenyam bangku sekolah saja susah untuk bisa menunjukkan karyanya apalagi mereka yang tidak ada basic sekolahnya atau yang tidak tergabung dalam satu klub fotografi dan berkawan dengan jaringan fotografer ternama,” tutur Refi.

Ia sebelumnya sempat berkeinginan untuk menjadi seorang pewarta foto. Namun ia mengurungkan niatnya karena merasa bahwa ia hanya bisa memotret dan belum fasih menulis sebuah berita. “Jadi salah satu jalan (untuk bisa menyalurkan hobi fotografi) adalah dengan mangambilalih ruang publik. Sebab kalau ruang publik tidak diambilalih maka sulit untuk mencari tempat berekspresi. Saya menyebutnya, mengambilalih ruang publik secara terhormat, dengan mengadakan berbagai pameran dan berlanjut dengan adanya edukasi,” ucapnya.

Sementara sekarang kita sudah punya kolom galeri sendiri, baik melalui media sosial Instagram ataupun Facebook. Namun demikian yang lebih menarik tetaplah dengan cara tatap muka dibandingkan dengan dunia maya, lanjutnya.

“Saat ini kita semakin susah, meskipun pandemi Covid-19 selesai. Karena hak berekspresinya semakin sedikit. Mungkin secara kasat mata (hak berekspresi) kelihatannya luas, tetapi dengan adanya undang-undang ITE ternyata ikut berdampak luas kemana-mana dan terkadang menjadi penghambat kebebasan bereskspresi,” tandas pria berjanggut panjang itu.

Refi mengatakan, pameran fotografi yang dilakukan di ruang publik juga semakin tidak jelas karena seakan tidak memiliki ‘soul’ pada karya yang dipamerkan. “Mungkin kita bisa melakukan pameran dimana-mana, tetapi hasil karya fotografi itu seperti tidak ada jiwanya. Kalau dahulu tidak sekedar pameran, si fotografernya juga ikut hadir. Tetapi sekarang banyak pameran di ruang publik tetapi si fotografer tidak ada di titik itu. Sehingga tidak ada emosi. Banyak karya-karya istimewa dipajang diruang publik tetapi nothing. Secara emosional kosong. Karena mereka hanya mengirim karya tanpa ikut terlibat secara emosional dalam pameran tersebut,” tukasnya.

Kalau di Galeri Bau Tanah, sambung Refi, mereka ikut memasang karya mereka sendiri hingga ada emosi yang terbangun didalamnya. Dikatakannya, Galeri Bau tanah menyediakan ruang bagi para seniman untuk mengekspressikan karyanya. “Bisa dikatakan, di Jakarta baru ada di situ. Bahkan ada kajian yang menyatakan bahwa itu adalah yang pertama di Asia Tenggara. Mungkin ada, namun sifatnya by project saja seperti festival, sementara Galeri Bau Tanah tetap continue melakukannya selama beberapa tahun,” papar lelaki berambut gondrong tersebut.

Selain motret dan menjadi penggagas galeri public area, Refi Mascot juga berprofesi sebagai pengumpul dan penjual barang unik lawas dan antic. Semua barang itu dipajang disuatu tempat yang disebut sebagai ‘Gudang Jimat’. Kegiatan menjual dan mengumpulkan barang unik dan antik itu dilakukannya untuk mendukung dan men-support perekonomian kegiatan pribadinya. Sudah 14 tahun Refi menggeluti dunia jual-beli barang-barang lawas. Sebelum Kawasan Jembatan Item di bilangan Jatinegara dikenal banyak orang, Refi sudah terlebih dahulu mempunya lapak di sana.

“Basic-nya saya suka cinematografi, khususnya di artistik. Sebelum motret saya memang di artistik. Barang-barang ini sering disewa atau dibeli untuk kepentingan shooting. Kalau di film kan kita terbiasa kerja bareng, sementara di fotografi kerja individual,” ungkap Refi.

Ia mengisahkan, pasar loak Jembatan Item merupakan pasar yang terjadi secara alami. Refi menyebut Jembatan Item sebagai Mata Air, maksudnya barang apapun ada disana. “Apapun yang dijual di sini laku kalau memang harganya cocok. Kalau dahulu orang takut untuk datang ke sini karena riwayatnya kurang bagus, sebagai tempat penodongan atau kriminal. Seiring dikenalnya nama Jembatan Item akhirnya image yang buruk itupun hilang. Pasar loak adalah perpustakaan semua ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Dalam perjalanan hidupnya, Refi Mascot juga pernah membuat sebuah museum tattoo. Secara tempat saat ini museum tattoo yang dibuatnya sudah tidak lagi berjalan, namun secara image dan online masih tetap eksis. Kesenangan Refi terhadap tattoo didasari hobinya memotret budaya.

“Saya suka hutan dan parang. Kalau sedang ke pedalaman melihat tattoo dan parang adalah dua hal yang saya suka. Waktu motret di Mentawai, dengan kondisi yang ada di sana, terinspirasilah untuk membuat tattoo museum. Tujuannya sebagai salah satu upaya untuk mengubah image negative tentang tattoo. Kalau negara tidak mengakui tattoo sebagai budaya Indonesia, maka sampai kapanpun juga tidak pernah ada pengakuan positif tentang tattoo,” ucap Refi.

Dikatakannya, tattoo Indonesia merupakan salah satu tattoo tertua yang ada didunia. Khususnya di Mentawai yang hingga sekarang masih bisa dilihat, dirasa, dan disentuh. Menurutnya, ada perbedaan antara tattoo Mentawai dan Kalimantan. Jenis tattoo Kalimantan dari segi motif lebih modern dibandingkan tattoo Mentawai. Hal itu terlihat dari gambar atau motif yang dibuat lebih nyata bentuknya, sementara di Mentawai motifnya adalah garis-garis. Secara teknik cara membuat pada keduanya sama yakni dengan diketuk, dengan irama yang berbeda dan alat yang juga berbeda.

“Kalau sebelumnya, di Mentawai tattoo dibuat dengan cara diketuk menggunakan tulang atau duri, tetapi sekarang sudah menggunakan peniti dan jarum mengikuti perkembangan yang ada. Tahun 2008-an teknologi mulai masuk kesana. Banyak seniman tattoo yang datang kesana melakukan sharing informasi. Mereka terinspirasi dngan tehnik serta motif tattoo tribal atau tattoo adat,” paparnya.

Refi menyampaikan, bisa dikatakan hampir semua tattoo adat cenderung tidak memiliki banyak warna karena mengikuti warna dari bahan alami. Tattoo sendiri sudah ada sebelum fotografi. Sama halnya dengan fotografi tattoo juga merekam apa yang dilihat oleh masyarakat adat yang rata-rata hidupnya memang bersinggungan langsung dengan alam. Oleh karenanya tattoo yang ada di tubuhnya adalah gambaran alam sekitarnya, seperti flora dan juga fauna.

“Tattoo menjadi sebuah rekaman lingkungan dan mendekati sisi agama atau kepercayaan asli mereka. Ada tattoo adat dan ada juga tattoo budaya. Tatoo tribal merupakan tattoo dengan motif tattoo adat. Orang yang melakukan tattoo adat adalah mereka yang tergolong dalam satu prinsip, anak suku, melakukan kegiatan-kegiatan kesukuan seperti menuju kedewasaan, melakukan perjalanan, berburu, meramu, atau memiliki kecerdasan lainnya. Sedangkan pada tattoo budaya biasanya mereka adalah orang-orang yang di tattoo karena terinspirasi dari Motif-motif tattoo adat tanpa melalui proses ritual,” tambahnya.

Refi berprinsip, dalam hidup, harta terakhir adalah menjaga kenangan. “Lakukanlah segala sesuatunya secara total dan tetap konsisten berkelanjutan,” pesan Refi pada  generasi muda Indonesia.  l dep/es

(sumber kanal Youtube Tirto Andayanto)

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)