Politik Pengabdian Seorang Diva

Berpolitik tidak melulu dimaknai mencari kekuasaan. Berpolitik itu mulia ketika diarahkan untuk kebaikan masyakarat luas, terutama bagi masyarakat konstituen. Inilah yang dimaknai artis populer Krisdayanti yang akrab disapa KD. Politik bagi sang diva adalah pengabdian. Makna yang sangat ideal bagi politisi baru yang duduk di parlemen. 

Parlementaria berhasil mewawancarainya secara eksklusif beberapa waktu lalu di Senayan. Sosoknya ternyata begitu ramah dan tak canggung bicara politik. Besar di industri musik dan seni peran, membuatnya dikenal luas sebagai artis nasional. Popularitasnya ini jadi modal sosial yang penting ketika berkontestasi sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. 

“Politik ini sebagai arena pengabdian untuk saya. Saya tulus saja untuk melakukan ini dan utamanya, bagaimana perempuan mendapatkan absolut power. Dia harus bisa menjalankan tugas rumah tangganya dan bisa dipercaya sebagai anggota parlemen. Nah, hal inil, kan, tidak mudah. Keluarga dan masa depan anak-anak saya harus saya pegang dan suami saya menitipkan itu kepada saya,” ungkap KD. 

Menjadi politisi bagi KD, harus memiliki wisdom, selain bekal ilmu yang memadai. Terjun ke masyarakat dan membantu kesulitan yang dihadapi masyarakat adalah bagian dari wisdhom tadi. Apalagi, kini masyarakat hidup di tengah pandemi Covid-19 yang entah sampai kapan berakhir. Ia pun mengaku sebagai generasi pandemi. Bersama anggota parlemen lannya, KD menyusun kebijakan dengan menyesuaikan pada kondisi pandemi. 

Anggota Komisi IX DPR ini juga selalu menunjukkan wishdom-nya saat berada di tengah masyarakat. Ia bekerja nyata untuk masyarakat yang diwakilinya. Sejak berkiprah sebagai wakil rakyat, sudah banyak yang ia lakukan untuk membantu masyarakat. Dalam kapasitasnya sebagai Anggota Komisi IX yang membidangi kesehatan, ia juga banyak mengarsiteki kebijakan-kebijakan publik yang melindungi rakyat Indonesia. 

Salah satu aksi konkrettnya adalah ketika ia membantu pembangunan balai latihan kerja untuk komunitas gereja di Malang. Seorang pendeta telah memintanya untuk membantu menciptakan balai latihan kerja di lingkungan gereja. Ia memfasilitasinya dengan mengajak Kemenaker merespon semua itu. 

“Alhamdulillah dapat perhatian dari pusat. Mereka berterima kasih kepada saya. Saya katakan, ini bukan dari saya, namun ini dari tuhan yang menitipkannya lewat saya. Saya terkesan sekali termasuk ketika saya bisa membawa pulhan ribu vaksin percepatan di malang raya. Artinya sebaik-baiknya wakil rakyat adalah yang bisa berkomunikasi dengan masyarakat.dan kepala daerahnya,” papar KD. 

Panggung Politik

Meski politik adalah dunia baru bagi KD. Wanita kelahiran Batu, 24 Maret 1975 ini, besar di panggung hiburan. Dari panggung hiburan ke panggung politik butuh waktu panjang. Bahkan, keputusan terjun ke panggung politik diakui KD butuh pertimbangan matang. 

Modal sosial yang dimilikinya berupa popularitas memudahkan langkahnya melenggang ke Senayan. Akhirnya, pada Pemilu 2019 lalu ia terpilih menjadi legislator dan kini duduk di Komisi IX yang membidangi kesehatan. 

Seperti diketahui, sebelumnya KD dikenal sebagai penyanyi dan artis pemeran. Sejak usia belia (9 tahun) dia sudah merekam lagu untuk film anak berjudul “Megaloman”. Bahkan pada usia 12 tahun sudah merilis album perdana dengan tajuk “Biasa Saja”. 

Pada 1992, KD mengikuti ajang Asia Bagus di Jepang dan menjadi juara. Dari titik inilah popularitasnya mulai melejit hingga akhirnya menjadi Diva. Berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri pernah ia dapatkan. 27 tahun malang melintang di dunia hiburan, KD akhirnya memutuskan menjadi politisi dan bergabung dengan PDI Perjuangan. 

KD sendiri dalam beberapa kesempatan selalu mengaku, tak menyangka akhirnya bisa duduk di senayan menjadi wakil rakyat. Dari merilis album, kini bantu masyarakat membangun jalan  dan rumah ibadah. KD sudah menyadari konsekuensi keputusannya menjadi wakil rakyat. 

Bila dulu kiprahnya selalu mendapat sanjungan dan apresiasi dari para penggemar, kini kiprahnya diawasi publik. Ia sedang mengemban amanah rakyat yang diwakilinya. 1 Oktober 2019, KD dilantik menjadi anggota DPR RI untuk periode lima tahun ke depan. 

Pada Pemilu 2019, KD ditempatkan di daerah pemilihan (dapil) Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu). Dari dapil ini diharapkan ia mendulang suara bagi partainya. Kebetulan Kota Batu adalah kota kelahirannya. Anak pasangan Trenggono dan Rachma Widadiningsih ini meraih suara terbanyak di dapilnya dengan 128.494 suara, mengalahkan para petahana. 

KD menegaskan, tidak akan mengkhianati amanah yang sudah diberikan warga Malang Raya. Kepada pers ia berkomitmen untuk menjadikan kerja legislasi lebih berkualitas. Ia tentu tak mau mengecewakan masyarakat konstituennya yang sudah rela memberikan suara nagi dirinya. Pada periode ini, ia berharap DPR lebih produktif dengan menghasilkan banyak produk legislasi berkualitas.

Membagi Peran

Fokus perhatian KD kini adalah ikut menyehatkan dan mensejahterakan masyarakat

Kesibukannya sebagai wakil rakyat memang telah menyita wakru kebersamaannyan dengan keluarga. Tapi, ini peran baru yang sudah ia sadari ketika memutuskan untuk terjun ke panggung politik. KD mengaku ditakdirkan mendapat peran baru itu untuk mengabdi kepada masyarakat, setelah hampir 30 tahun berkiprah di panggung hiburan. 

Di DPR , ia bisa tampil apa adanya dengan ikut mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang dirasa kurang pas. Di rumah, tetaplah seorang ibu dan istri yang bersahaja. Ia tak kesulitan membagi peran itu. Antara peran politiik dan rumah tangga bisa dibaginya secara seimbang. KD terpilih sebagai anggota parlemen dari dapil Jawa Timur V yang meliputi Kota Malang, Kabuoaten Malang, dan Kota Batu. 

Ia berkiprah bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan). Ia tak menyianyiakan takdir politik ini. Ketika Tuhan sudah memberikan tugas itu melalui peran kita yang sekarang, ya itu harus dimaksimalkan. “Kadang saya juga enggak habis pikir, begitu baiknya Tuhan kepada saya dengan memberikan peran lain bagi saya. Tanggung jawab saya di dunia seni yang sudah hampir 30 tahun ini kemudian diarahkan ke dunia politik lebih tegas, terarah, dan lebih mempunyai peluang untuk membantu orang lain,” ungkapnya. 

Dia lalu melanjutkan, ketika menjadi diva selama 27 tahun mana mungkin ia bersentuhan dengan banyak balai latihan kerja di daerah. Ini adalah bagian kerjanya sebagai Anggota Komisi IX DPR RI. Sebagai wakil rakyat, ia juga bisa membantu masyarakat dengan program padat karya, hal yang tidak mungkin dilakukannya selama menjadi diva. 

“Saya kira selama menjadi diva 27 tahun belum tentu saya bisa bantu balai latihan kerja, membuat bantuan padat karya, dan membetulkan jalanan. Saya sebelumnya tidak punya kuasa untuk itu. Artinya, memang, sebagai anggota dewan kita bukan magician yang merubah semuanya menjadi nyata, karena an kita tidak dapat memuaskan semua pihak. Tapi, setidaknya banyak hal nyata yang saya lakukan di luar kegiatan saya menyanyi,” tutur KD. 

Fokus perhatian KD kini adalah ikut menyehatkan dan mensejahterakan masyarakat. Penempatannya di dapil Malang raya, menurut istri Raul Lemos itu, karena masyarakat di sana membutuhkan kehadirannya. Ia bergerak cepat membantu kesehatan dan kesejahteraan masyarakat yang diwakilinya. Di sektor kesehatan, ia ikut membantu kesehatan perempuan dan menekan angka stunting di Malang. Begitulah peran dan kiprahnya sekarang. 

Duta Donor Darah

Ada satu lagi peran mulia yang disematkan bagi adik kandung Yuni Shara ini. KD adalah duta donor darah. Peran baru ini mulai dijalankan dengan mengampanyekan pentingnya donor darah untuk menyelamatkan hidup orang-orang yang membutuhkan banyak darah. Selain menyelamatkan hidup orang lain, donor darah juga ternyata menyehatkan tubuh pendonor. 

Mendonorkan darah harus dimulai dari diri sendiri. Ini aksi kemanusiaan yang sangat menyentuh kehidupan. KD menuturkan, dengan menjadi duta donor darah ini, bisa membuatnya lebih inspiratif dan peduli pada kesehatan dan kelangsungan hidup orang banyak. Banyak penyakit kritis yang membutuhkan darah pendonor, seperti thalasemia, kanker, pasien cuci darah, pasien kecelakaan, dan lain-lain.

“Mudah-mudahan dengan disematkannya saya sebagai duta donor darah ini bisa semakin menggerakkan dan memberikan inspirasi bagi orang lain. Tidak hanya di lingkungan DPR, di luar DPR pun bisa menjadi pahlawan kemanusiaan. Donor darah ini urgen untuk membantu para pasien yang sedang dirawat, seperti thalasemia, kanker, dan mereka yang mencuci darah,” imbuh KD, bijak. 

Pada kasus pasien cuci darah, sambung KD, biaya yang dikeluarkan begitu besar, karena secara berkala harus mendapat tambahan darah untuk kelangsungan hidupnya. Darah pendonor juga dibutuhkan bagi para pasien demam berdarah. Dijelaskannya, selama ini ketersediaan stok darah di Indonesia di bawah standar WHO, yaitu 2 persen dari populasi penduduk atau sekitar 5,2 juta kantong darah per tahun. 

“Mungkin kita enggak tahu dan enggak mengenal orang lain yang kita donor. Namun, betapa itu menjadi hal yang sangat mulia. Ini harus disadari, karena sangat bermanfaat untuk kehidupan kita,” kilah KD. Kondisi kekurangan donor darah harus segera dipenuhi dengan menjaring banyak pendonor. Salah satunya dengan yang pernah KD lakukan di gedung DPR. Ia mengampanyekan agar semua pegawai, anggota dewan, dan masyarakat sekitar mendonorkan darahnya di DPR.

Duta Donor Darah

Gaya hidup sehat sudah lama diterapkan KD sejak muda. Ia sangat mengutamakan gaya hidup sehat dengan menyeimbangkan antara kerja, istirahat dan olahraga yang teratur. Satu pedoman hidup sehat menurut KD ialah terjaganya imunitas, positive thinking dan menciptakan lingkungan yang sehat.

Salah satu olahraga yang ditekuni KD saat ini ialah olahraga asal Tiongkok, Wushu Taolu yang sudah mulai ditekuni KD sejak beberapa bulan terakhir, sejak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Meski tidak mudah, KD dapat berlatih gerakan selama dua jam dalam setiap latihan. Latihan ia jalani lima kali dalam seminggu secara rutin dan disiplin. KD tertarik pada Wushu karena perpaduan gerakannya, termasuk musik sebagai pengiring gerakan.

Selain diartikan sebagai seni bertempur, bagi KD, Wushu merupakan olahraga anti pikun karena ada media sarana kipas dan pedang. “Gerakan itu disinergikan dengan musik, sehingga ada cantiknya tetapi juga ketegasan. Tidak hanya bela diri, di dalam Wushu juga terdapat unsur seni, olahraga dan juga kesehatan,” tutup KD. l

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)