Pidato Kenegaraan Pemerintah Miliki Target Realistis

Presiden Joko Widodo dalam pidato kenegaraan yang disampaikan pada Sidang Tahunan MPR RI, Sidang bersama DPR RI-DPD RI menyampaikan beberapa poin penting terkait penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia yang masih belum juga usai.

Karyono Wibowo. Foto: Geraldi

Menanggapi pidato kenegaraan tersebut, pengamat politik Karyono Wibowo mengapresiasi isi pidato presiden tersebut yang dinilai bagus di atas kertas. Namun, menurutnya pidato presiden tersebut tidak cukup hanya di atas kertas dan harus benar-benar direalisasikan.

“Secara keseluruhan (pidato kenegaraan) menurut saya bagus ya, di atas kertas itu bagus, cuma seperti yang saya sampaikan di awal tadi. Jadi yang penting adalah bagaimana pemerintah konsisten mengimplementasikan di lapangan dan melakukan fungsi pengawasan internal di pemerintahan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) ini juga menilai isi pidato tersebut cukup membangun optimisme dan mengandung target-target yang realistis. Seperti misalnya optimisme di bidang investasi. Menurutnya, target investasi sebesar Rp900 triliun pada tahun 2021 yang disampaikan Jokowi cukup realistis.

“Ya ini sudah menjadi tugas pemerintah untuk membangun optimisme di tengah pandemi Covid-19 ini. Optimisme itu menjadi salah satu modal untuk bangkit dari keterpurukan, maka harus ada optimisme. Nah, termasuk optimis di bidang investasi tadi untuk perbaikan kemajuan ekonomi dan sebagainya,” tambahnya.

Meski target tersebut dinilai cukup realistis, ia menekankan bahwa masih ada berbagai tantangan yang harus dihadapi. Seperti misalnya pertumbuhan ekonomi yang tumbuh hingga 7,07 persen namun masih banyak ditopang oleh sektor konsumsi dan sektor investasi sebagai kontributor terbesar.

Hal ini merupakan tantangan pemerintah agar nantinya dapat mengarahkan perekonomian untuk sektor produksi. Untuk itu, pemerintah perlu terus mendorong pengembangan dan mengarahkan kebijakan ekonomi ke sektor produktif agar dapat menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan mempersempit kesenjangan di Indonesia.

“Ini tantangan pemerintah, bagaimana agar pertumbuhan ekonomi ini nantinya diarahkan untuk sektor produksi, produktif gitu. Ini penting, jangan terus-terusan ditopang oleh sektor konsumsi rumah tangga. Maka ke depan harus didorong untuk mengembangkan, mengarahkan kebijakan ekonomi pada sektor produktif,” ujar Karyono.

Bangun Sinergitas

Karyono Wibowo. Foto: Geraldi
pemerintah dan DPR dan juga lembaga-lembaga negara yang lainnya harus bersama-sama, dan juga seluruh masyarakat harus mendukung upaya mewujudkan kemandirian dibidang farmasi alat kesehatan dan vaksin tadi

Selain itu, terkait dengan adanya penguatan kelembagaan di masa pandemi, yang disampaikan Presiden Jokowi, Karyono menilai penguatan kelembagaan tersebut masih memiliki beberapa hal yang harus diperbaiki. Utamanya, sinergitas yang dibangun antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

“Ada beberapa hal yang masih harus diperbaiki, terutama sinergitas yang memiliki banyak faktor antara pemerintah pusat dan daerah. Ini saya kira perlu dibangun satu kesadaran bersama, bedakan antara kepentingan politik dengan kepentingan kemanusiaan. Meskipun kita berbeda pandangan secara politik, bahkan berbeda pandangan secara ideologi, tetapi dalam hal ini kita harus bersama-sama, atas nama kemanusiaan kita harus bersinergi,” ungkapnya.

Di samping penguatan kelembagaan, kemandirian industri obat, vaksin dan alat kesehatan yang masih mengalami kelemahan selama pandemi juga dinilai menjadi pekerjaan rumah bersama. Untuk itu, baik pemerintah, lembaga legislatif dan masyarakat harus berkolaborasi untuk mewujudkan kemandirian dalam sektor kesehatan tersebut. Agar Indonesia nantinya tidak terus menerus bergantung pada negara lain.

“Baik pemerintah dan DPR harus bersama-sama untuk mewujudkan kemandirian itu. Ada vaksin merah putih, itu segera harus diwujudkan, pemerintah dan DPR dan juga lembaga-lembaga negara yang lainnya harus bersama-sama, dan juga seluruh masyarakat harus mendukung upaya mewujudkan kemandirian dibidang farmasi alat kesehatan dan vaksin tadi,” pungkasnya.

Selain fokus dalam penanganan pandemi, dalam pidatonya Presiden Jokowi juga menyinggung tentang penguatan sektor-sektor lain seperti pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur yang menjadi salah satu agenda besar di tengah pandemi.

Menurut Karyono, penguatan di berbagai sektor tersebut merupakan suatu keharusan. Ia menilai, selain fokus dalam penanganan pandemi yang merupakan skala prioritas pemerintah saat ini, peningkatan kualitas SDM, pembangunan infrastruktur, serta penguatan di sektor sosial dan ekonomi masyarakat juga harus terus berjalan.

“Karena menangani masalah pandemi itu ibarat merawat bayi kembar siam, jadi dari berbagai aspek itu harus diperhatikan. Sehingga semua bisa berjalan. Nah, masalah kesehatan, ekonomi, sosial, meningkatkan kualitas SDM, kemudian pendidikan dan sebagainya itu tetap harus berjalan. Ini pun juga dilakukan oleh berbagai negara dalam menangani pandemi ini,” ungkapnya.

Terakhir, meski secara keseluruhan pidato Presiden dinilai cukup memiliki optimisme dengan target-target yang cukup realistis, Karyono berharap apa yang disampaikan Presiden tidak hanya tertuang di atas kertas saja. Konsistensi dalam implementasi di lapangan serta fungsi pengawasan juga harus dilakukan agar kebijakan-kebijakan yang telah dibuat dapat on the track di lapangan. bia/er

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)