Parja 2021, DPR Ajak Remaja Kritisi Media Siaran

Media seharusnya menjadi motivator bangsa. Bagi masyarakat di beberapa daerah, keberadaan media siaran atau televisi sangatlah penting, bahkan menjadi inspirasi bagi mereka. Namun, tak semua tanyangan di televisi layak dijadikan inspirasi

Parlemen Remaja 2021 diselenggarakan secara virtual. Foto: Azka/nvl

Bagian Humas dan Pengelolaan Museum Setjen DPR RI pada tahun 2021 ini kembali mengadakan perhelatan Parlemen Remaja. Agenda ini merupakan kegiatan yang kelima belas kali atau yang kedua dilaksanakan kecara virtual. Sama seperti sebelumnya, Parlemen Remaja 2021 bertujuan untuk memberikan pembelajaran politik dan demokrasi kepada generasi muda melalui diskusi dan pertukaran gagasan yang dilandasi semangat untuk Indonesia lebih baik.

Di tahun ini, Parlemen Remaja mengangkat tema besar ‘Remaja di Era Kebebasan Informasi: Siaran Berkualitas, Masyarakat Cerdas’. Setelah melalui tahapan seleksi yang dilakukan oleh Tim Penilai, sebanyak 131 pelajar dari total 5.458 yang tersebar dari 80 daerah pemilihan (dapil se-Indonesia) terpilih mengikuti rangkaian kegiatan Parlemen Remaja 2021 pada 13-17 September 2021 secara virtual. Selain itu peserta terpilih mendapatkan materi secara langsung dari Anggota DPR RI, pejabat di lingkungan Sekretariat Jenderal DPR RI maupun mitra kerja DPR RI serta para pakar yang mumpuni di bidangnya.

Selain itu, peserta dapat merasakan menjadi Anggota DPR RI yang melaksanakan simulasi rapat-rapat dan tentunya mengambil keputusan dalam pembuatan kebijakan yang salah satu bahasannya adalah terkait UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.

Dalam laporannya saat pembukaan Parlemen Remaja, Senin (13/9), Sekretaris Jenderal DPR RI Indra Iskandar menyatakan Parlemen Remaja 2021 digelar melalui proses seleksi yang sangat ketat. Yakni, dengan penilaian yang mempertimbangkan beberapa aspek penilaian seperti penilaian prestasi akademik dan non akademik, keaktifan dalam berorganisasi, pembuatan video kampanye dan penulisan esai.

Indra mengungkapkan, video kampanye merupakan prasyarat dalam proses seleksi. Peserta wajib membuat video singkat berdurasi kurang lebih 3 menit bertema ‘Jika saya menjadi legislator apa yang akan dilakukan dalam Remaja di Era Kebebasan Informasi: Siaran Berkualitas, Masyarakat Cerdas’ yang diunggah pada akun media sosial masing-masing calon peserta. Hal ini dilakukan untuk mengukur kemampuan peserta dalam menganalisis kajian permasalahan, mengeksplorasi gagasan, dan menunjukkan idealisme mereka. 

“Di sisi lain, kriteria yang merupakan penilaian tertinggi dalam proses seleksi yaitu penulisan esai. Penulisan esai untuk mengukur peserta dalam menganalisis kajian permasalahan, mengeksplorasi gagasan, dan menunjukkan idealisme mereka. Dengan tema ‘Remaja di Era Kebebasan Informasi: Siaran Berkualitas, Masyarakat Cerdas’. Pengumpulan esai peserta terpilih nanti akan dibukukan dalam buku kumpulan esai anggota Parlemen Remaja tahun 2021 yang akan diberikan kepada Pimpinan DPR RI,” ujar Indra.

Ketua DPR RI Dr. (H.C) Puan Maharani saat pembukaan kegiatan Parlemen Remaja secara Hybrid. Foto: Azka/nvl

Ketua DPR Kenalkan Cara Kerja Wakil Rakyat

Hari pertama kegiatan Parlemen Remaja, Senin (13/9), secara Hybrid, Ketua DPR RI Dr. (H.C) Puan Maharani mengenalkan cara kerja para wakil rakyat kepada generasi Z. “DPR RI merupakan rumah rakyat, tempat disusunnya keputusan-keputusan politik yang bertujuan untuk menyejahterakan rakyat,” kata Puan. 

Puan mengatakan, generasi muda harus memahami cara kerja demokrasi di parlemen. Selain itu juga, untuk memastikan demokrasi bekerja menghasilkan keputusan terbaik bagi rakyat. “Kalian akan merasakan bahwa di dalam kerja-kerja demokrasi, kita bukan hanya harus berbicara tetapi bahwa kita juga harus mau mendengar. Bahwa kita harus saling menemukan titik temu yang terbaik untuk mengambil keputusan,” tuturnya. 

Meski setiap fraksi di DPR RI memiliki warna politiknya masing-masing, namun semuanya tetap berada di dalam bingkai Merah Putih, yakni warna Indonesia. Hal tersebut sebagai salah satu wujud nyata Bhineka Tunggal Ika yang menjadi sumber kekuatan dari persatuan, bukan sumber perpecahan.

Untuk itu, semua pihak harus mengedepankan penerapan Pancasila dalam setiap unsur kehidupan. “Bahwa Pancasila yang merupakan jiwa bangsa tidak semata-mata ditempatkan sebagai slogan, simbol, dan semacamnya,” sebut Cucu Proklamator RI Bung Karno itu.

 “Kita harus yakin seyakin-yakinnya, bahwa selama Pancasila masih ada di hati orang Indonesia, masih ada di hati kalian dan di hati kita semua. Maka selama itu juga Indonesia akan terus ada,” tambah Puan. 

Puan meminta, para peserta yang merupakan generasi Z harus belajar dan memahami cara wakil rakyat bekerja dalam mengambil keputusan. “Kalian akan belajar dengan simulasi beberapa kegiatan utama yang dilakukan di DPR. Seperti Kunjungan Kerja, Rapat Dengar Pendapat Umum, Rapat Kerja, dan Rapat Paripurna,” ungkapnya.

Remaja harus Kritisi Dunia Penyiaran

Ditemui saat kunjungan kerja  virtual Parlemen Remana 2021 ke stasiun TVRI dan Net TV, Rabu (15/9), Kepala Bagian Humas dan Pengelola Museum Setjen DPR RI Minarni berharap remaja di era digitalisasi saat ini mengambil peranan dengan lebih kritis dalam menyikapi perkembangan dunia penyiaran yang sangat pesat. Karena kualitas siaran sangat mempengaruhi sisi psikologis generasi muda. 

“Jadi bagaimana para peserta Parja 2021 menyikapi siaran yang ada sekarang. Mereka kita tuntut untuk kritis. Apakah mereka bisa memilah penyiaran dan menyikapi perkembangan penyiaran sekarang banyak yang tidak sesuai dengan norma yang ada,” tutur Minarni. 

Selain terkait konten siaran, para peserta Parja 2021 diharapkan bisa menilai secara kritis apakah lembaga Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah melakukan pengawasan terhadap lembaga penyiaran dengan baik. es

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)