Meninjau Pengembangan Kilang Pertamina

Kilang Pertamina mendapat perhatian khusus Komisi VI DPR RI. Di Balikpapan, Kalimantan Timur, delegasi Komisi VI meninjau proyek pengembangan Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) V Balikpapan. KPI unit V Balikpapan tengah melakukan proyek pengembangan atau peningkatan kapasitas melalui program Refinery Development Master Plan (RDMP) yang ditargetkan beroperasi 2024.

Tim Kunker Komisi VI DPR RI Gde Sumarjaya Linggih saat meninjau langsung Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) V. Foto: Ayu/nvl 
Tim Kunker Komisi VI DPR RI Gde Sumarjaya Linggih saat meninjau langsung Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) V. Foto: Ayu/nvl

Tujuan kami ke sini untuk pengawasan kinerja dan operasional, atau memastikan apakah sejauh ini semuanya berjalan sesuai rencana. Pertamina sebagai salah satu BUMN di bidang energi merupakan mitra kerja Komisi VI DPR RI,” ujar Gde Sumarjaya Linggih saat meninjau langsung KPI Refinery Unit (RU) V Balikpapan, Senin (26/9/2022) lalu. 

Politisi Fraksi Partai Golkar ini menjelaskan, Komisi VI mendapat kepastian bahwa progres proyek tersebut berjalan sesuai rencana. Program RDMP tersebut dapat terus berjalan sesuai target yang ditetapkan. Hal itu mengingat kebutuhan energi nasional cukup tinggi. Butuh dukungan yang lebih untuk meningkatkan ketahanan energi nasional.  

Dengan program RDMP ini, lanjut Demer-sapaan akrab Sumarjaya- kapasitas produksi kilang ditargetkan akan meningkat atau bertambah sebanyak 100 ribu barel per hari (bph). Jika saat ini KPI Balikpapan hanya mampu memproduksi minyak 260 ribu bph, maka ke depan jika proyek tersebut selesai kapasitas produksi kilang Balikpapan akan mencapai 360 ribu bph. 

“Jika proyek pengembangan KPI Balikpapan ini selesai, maka jumlah produksinya akan melebihi atau mengungguli KPI Cilacap, Jawa Tengah yang saat ini kapasitas produksinya 345 ribu bph. Sehingga, dengan kata lain, KPI Balikpapan ini di tahun 2024 mendatang akan menjadi kilang dengan kapasitas produksi terbesar, yakni 360 ribu bph,” pungkas Demer. 

Sementara di Pekanbaru, Riau, Komisi VI DPR meninjau Pertamina Hulu Rokan. Anggota Komisi VI DPR RI Herman Khaeron mengungkapkan, Blok Rokan dulunya merupakan penghasil 40 persen lifting minyak nasional. Namun, setelah alih kelola dari PT Chevron serta dinamika yang terjadi dalam pengelolaannya oleh Pertamina Hulu Rokan, produktivitas Blok Rokan tinggal 20-25 persen dari target lifting nasional. 

“Setelah peralihan, teknologi yang seharusnya diterapkan dan mendapatkan perhatian lebih khusus karena keunikan jenis kandungan minyak yang ada di Blok Rokan. Apalagi, pengalihannya ini seperti yang saya katakan sangat politis, karena Chevron juga masih punya minat untuk melanjutkan operasi blok ini,” ujar Herman, Senin (26/9/2022) lalu. 

Dari eksplorasi di Blok Rokan, Pertamina sendiri memasang target 160 ribu bph. Padahal, sebelum alih kelola, produktivitas dari Blok Rokan bisa mencapai 200 ribu bph. Hal inilah menurut Herman yang harus dikejar oleh Pertamina Hulu Energi sebagai subholding upstream pengelolaan Blok Rokan. “Menjadi tantangan ke depan, pengeborannya harus lebih banyak. Karena di sini sumurnya tidak terlalu dalam, sehingga penggaliannya harus lebih banyak apalagi karakteristiknya berada di sela-sela batuan yang terpisah-pisah. Meskipun potensinya besar, namun terpisah-pisah, sehingga pengeborannya harus lebih banyak,” tutur politisi Fraksi Partai Demokrat itu. 

Anggota Komisi VI DPR RI Herman Khaeron saat mengikuti Kunjungan Kerja Komisi VI DPR RI. Foto: Erman/nvl 
Anggota Komisi VI DPR RI Herman Khaeron saat mengikuti Kunjungan Kerja Komisi VI DPR RI. Foto: Erman/nvl

Diketahui, Blok Rokan selama ini menjadi tumpuan lifting minyak Indonesia. Meskipun produktivitasnya hanya 20-30 persen dari lifting minyak nasional, tetap akan mampu menopang target lifting nasional yang di atas 700 ribu bph. “Oleh karena itu, saya kira harus menjadi perhatian khusus. Targetnya sekarang adalah 160 ribu bph dan 500 sumur baru. Kemudian prognosanya di sekitar 430-460 sumur. Ini harus terus didorong oleh negara agar betul-betul dapat meningkatkan lifting minyak nasional,” pungkasnya. 

Di Bandar Lampung, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Aria Bima meminta PT Pertamina Patra Niaga menyiapkan berbagai skenario sebagai solusi jika harga bahan bakar minyak (BBM) tidak terkendali. Aria Bima menyatakan, ada beberapa faktor yang memengaruhi fluktuasi harga minyak. Fluktuasi harga minyak ini tentu akan berdampak pada penentuan harga BBM di dalam negeri. Seperti diketahui, saat ini beberapa negara sudah mulai mengelami resesi ekonomi. 

Krisis pun terjadi di berbagai lini termasuk krisis energi. Indonesia juga turut terdampak hal tersebut. Oleh karena itu, Aria meminta PT Pertamina Patra Niaga membuat skema mengatasi krisis ini. Terlebih Indonesia cukup bergantung pada pasokan minyak dari luar negeri. “Skenario-skenario harus disiapkan pada saat harga BBM nanti memang unpredictable,” ujarnya usai memimpin pertemun tim Kunker spesifik Komisi VI DPR RI dengan Direksi PT Pertamina Patra Niaga, di Bandar Lampung, Senin (26/9/2022) lalu. 

Politisi PDI Perjuangan tersebut ikut menyoroti gejolak yang terjadi di negeri ini akibat kenaikan harga BBM bersubsidi sejak awal September 2022 lalu. Ia meminta agar ada kerja sama antarperusahaan BUMN sebagai salah satu solusinya. PT Pertamina Patra Niaga saat ini sedang menjajaki kerja sama dengan PT Telkom Indonesia untuk membuat kartu BBM subsidi bagi masyarakat yang berhak. 

Aria pun mendesak PT Pertamina Patra Niaga dan PT Telkom bekerja sama dengan baik menjalankan wacana kartu BBM subsidi tersebut. Dengan adanya kartu itu, ia yakin penyaluran subsidi BBM akan tepat sasaran. “Kita berharap untuk Patra Niaga bisa menerapkan dan bisa kerja sama dalam menggunakan berbagai sistem supaya penerapan BBM bersubsidi nanti bisa sesuai sasaran. Kita akan melihat sejauh mana penggunaan kartunya,” pungkas legislator dapil Jawa Tengah V tersebut. ayu,es,ndn

Tim Kunspek Komisi VI DPR RI saat foto bersama usai dengan Direksi PT Pertamina Patra Niaga. Foto: Nadhen/nvl 
Tim Kunspek Komisi VI DPR RI saat foto bersama usai dengan Direksi PT Pertamina Patra Niaga. Foto: Nadhen/nvl

Bagian Penerbitan

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)