M. Sarmuji Garis Hidup Anak Seorang Petani Tambak

Tidak ada yang Maha Bijak selain Sang Ilahi. Atas kuasa-Nya, anak seorang petani tambak udang tradisional itu kini menjadi wakil rakyat, tempat berjuta-juta rakyat menggantungkan “nasib”nya. Berikut sekelumit kisah hidup yang dipaparkan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, M. Sarmuji hanya kepada Ayu dan Ojie dari Parlementaria.

M. Samuji. FOTO: NAEFUROJI/NVL
M. Samuji. FOTO: NAEFUROJI/NVL

Kehidupan keluarga Sarmuji saat kecil sejatinya tidak jauh berbeda dengan masyarakat desa lainnya. Untuk ukuran masyarakat desanya, banyaknya tambak ikan dan udang, plus hektaran lahan sawah hektaran ang dimiliki oleh kedua orangtua, Sarmuji bisa dikatakan sebagai orang ‘berada’. Meski demikian, standar hidup dan pergaulan sosial keluarganya diakui Sarmuji masih sebatas kehidupan desa. Kedua orang tua Sarmuji tidak lulus SD. Sama sekali belum tersentuh teknologi tinggi, apalagi politik dan isu nasional.

Masih lekat diingatan Sarmuji, sebagaimana dikisahkan oleh kedua orangtuanya menjelang kelahirannya, kala itu sang Ayah, H. Kusmin Abdullah (alm) tengah membuka tambak udang baru. Sehingga perlu membuat pintu air agar mudah untuk mengkontrol debit air tambak. Pekerjaan membuat pintu air tak kunjung selesai, sementara sang jabang bayi yang ada dalam kandungan sang ibu, Hj. Giyah, tak sabar lagi untuk segera menampakan wajahnya ke dunia.

Sang ayah berucap seraya memohon kepada Allah SWT agar anak yang ada dalam kandungan sang isteri (meski sudah pecah air ketubannya) agar jangan dulu lahir, sebelum ia berhasil menyelesaikan pintu air tersebut. Allah SWT mengijabah doanya, selang beberapa menit sang ayah menyelesaikan pintu air tersebut, dan bayi mungil yag dinanti-nanti itupun lahir ke dunia dan diberi nama M. Sarmuji. Persalinan yang tidak biasa berkat doa ayah yang memang ahli tirakat.

Aktivitas Sarmuji kecil pun tak jauh berbeda dengan kebanyakan anak desa seusianya di Medokan Ayu, Surabaya, Jawa Timur. Ia bersekolah di SDN 270 Medokan Ayu Surabaya. Jika musim penghujan tiba, jalan menuju sekolah tersebut sangat becek. Beberapa teman Sarmuji lebih memilih untuk nyeker alias ke sekolah tanpa menggunakan alas kaki. Namun tidak demikian dengan Sarmuji. Sang Ibu tetap menyiapkan sepasang sepatu untuk anaknya ke sekolah.

Singkat cerita berkat dukungan dan didikan yang disiplin dari kedua orangtuanya, sejak kelas 1 hingga kelas 6 SD Sarmuji selalu menjadi menjadi juara kelas. Bahkan, ia berhasil meraih Nilai Ebtanas Murni (NEM) tertinggi di sekolahnya.

Belajar berorganisasi sejak SMP

Lulus SD, Sarmuji pun melanjutkan jenjang pendidikannya di SMPN 17 Teringgilis, di Kecamatan Rungkut, Surabaya, Jawa Timur. Dipilihnya sekolah tersebut karena di kampungnya saat itu belum ada SMP. Sedangkan SMPN 17 Teringgilis, merupakan sekolah terbaik dan favorit se-kecamatan Rungkut itu.

Masa-masa SMP, ada satu lompatan pergaulan sosial yang dirasakan Sarmuji. Jika saat SD hampir semua teman-temannya berasal dari keluarga dengan latar belakang yang sama dengan dirinya, namun di SMP, kondisinya yang lebih heterogen. Dimana, latar belakang keluarga temannya tidak hanya sebatas petani, tetapi ada juga yang orang tuanya berprofesi sebagai polisi, PNS, pengusaha dan sebagainya.

“Itu semua bukan terkait uang atau harta ya, tapi lebih ke pergaulan sosial yang lebih luas lagi dan lebih modern lah. Misalnya ketika teman-teman saya bicara tentang ‘tetris’ dan ‘dindong’, saya sama sekali tidak mengerti. Baru setelah saya ikut bergaul, saya tahu bahwa itu sebuah games atau permainan,” ujar Sarmuji.

Ada kalanya timbul perasaan minder dalam diri Sarmuji. Namun, secara perlahan kepercayaan dirinya mulai muncul. Terlebih lagi ketika ia mulai bergabung dengan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), salah satu organisasi belajar lintas sekolah. Ia masuk IPNU karena ajakan dan dorongan dari seniornya di Pondok Tarbiyatul Aulad, tempat Sarmuji pernah menimba ilmu agama. Pasalnya Sarmuji termasuk santri yang aktif mengikuti berbagai kegiatan di Pondoknya, mulai dari deklamasi, drama bahkan khitobah atau belajar khotbah.

Lulus SMP, Sarmuji melanjutkan sekolah di SMAN 16 Surabaya dan mengambil jurusan IPS. Kepercayaan diri Sarmuji semakin bertambah, berkat kecerdasan dan keaktifannya di IPNU, nama Sarmuji pun makin dikenal. Terlebih lagi saat ia di SMA, orangtua Sarmuji mengijinkan anak keduanya itu untuk menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasinya ke sekolah. Meski hanya menggunakan sepeda motor

Allah SWT mengijabah doanya, selang beberapa menit sang ayah menyelesaikan pintu air tersebut, dan bayi mungil yag dinanti-nanti itupun lahir ke dunia dan diberi nama M. Sarmuji.

‘warisan’ sang kakak, namun hal itu sedikit banyak mendongkrak kepercayaan dirinya di tengah-tengah lingkungan sekolahnya.

Di SMA, Sarmuji aktif di Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dengan menjabat sebagai Ketua Seksi Kerohanian Islam (SKI). Jika dibandingkan dengan bidang lainnya di Osis, SKI memang yang paling aktif menggelar berbagai kegiatan kerohanian Islam. Mulai dari peringatan hari-hari besar agama yang diisi dengan dakwah dan doa bersama, SKI juga kerap membuat berbagai macam kegiatan, seperti khitobah (pidato), membaca Alquran, istighotsah, peringatan hari besar Islam dan lain-lain. Sarmuji juga aktif mengikuti lomba seperti lomba ceramah dan cerdas cermat agama. Khusus untuk yang terakhir ini, Sarmuji pun pernah menjadi juara cerdas-cermat. Tambak dan Sawah

Sejatinya, kedua orang tua Sarmuji tidak pernah meminta anaknya untuk ikut turun ke sawah atau ke tambak. Namun, layaknya anak desa, tidak akan bisa jauh dari lingkungan tersebut mendorongnya untuk sesekali mengikuti aktivitas sang ayah ke tambak.

Sesekali Sarmuji turut mengambil udang dari ‘bubu’ yang ada di tambak orang tuanya. Satu lokasi tambak biasanya bisa menghasilkan 5-10 kg udang per hari, dimana per kilogramnya harga sekarang bisa mencapai 40-50 ribu udang kecil dan 80-100 ribu untuk udang besar. Jadi bisa dikatakan bahwa sebenarnya masyarakat tambak waktu itu dari segi ekonomi terbilang cukup.

Kuliah Terlama

Meski kedua orang tuanya tidak lulus SD, namun mereka bertekad agar anak-anaknya bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya, minimal Sarjana. Hal itulah yang kemudian memotivasi Sarmuji untuk terus melanjutkan pendidikannya hingga ke bangku kuliah. Ia lebih memilih kuliah di Fakultas Ekonomi di Universitas Jember. Di bangku kuliah ini jualah, jiwa organisatoris Sarmuji semakin meningkat, bahkan dirinya mengikuti organisasi di jalur Extra Universiter, bukan jalur intra.

Manusia boleh berencana, namun Tuhan jualah yang menentukan. Di penghujung perkuliahannya, dan ketika proposal skripsi pun sudah diajukan, ayah Sarmuji dipanggil menghadap Sang Khalik. Hal tersebut turut mempengaruhi perkuliahannya, apalagi pada saat bersamaan penghasilan tambak menurun akibat tingginya tingkat pencemaran lingkungan.

Momen tersebut mengharuskan Sarmuji untuk memutar otak mencari tambahan uang jajan dan tidak mau bergantung dengan kiriman dari ibunya. Sampai suatu Ketika, ia dipercaya menjadi pembawa acara Dji Samsoe Forum Bisnis di radio swasta ‘Kiss FM Jember’. Sarmuji meyakini bahwasanya pengalaman berorganisasi dan background pendidikannya lah yang menghantarkannya menjadi peyiar radio di acara bisnis tersebut.

“Lumayan waktu itu, program itu seminggu sekali. Dan setiap saya memandu acara itu, saya dapat 25 ribu, jadi sebulan saya dapat 100 ribu rupiah, angka yang untuk ukuran saat itu lumayan besar,” paparnya. Siapa sangka program bisnis dalam radio tersebut banyak diminati masyarakat.

Secara tak langsung, program tersebut turut mengantarkannya menjadi seorang pebisnis. Bersama salah seorang rekannya, Sarmuji mendirikan International Bussiness School (IBS) di Jember. Di sana ia menjadi Manajer Litbang dan Pemasaran.

DI awal-awal pendirian IBS, Sarmuji dan rekannya melakukan promosi besar-besaran. Baik melalui media massa, pamflet, tak heran jika kemudian jumlah siswa nya pun semakin banyak, bahkan termasuk salah satu institusi Pendidikan yang paling diminati di Jember.

Sayangnya, ‘kejayaan’ IBS itu tak berlangsung lama. Karena satu dan lain hal Sarmuji dan rekan kerjanya memutuskan pecah kongsi. Mereka memilh jalan sendiri-sendiri untuk membangun bisnisnya masing-masing. Sarmuji lebih memilih untuk melanjutkan kegiatan dan aktif di Extra Universiter. Ia terpilih sebagai Ketua Umum Cabang Jember yang kemudian singkat cerita mengantarkannya hijrah ke ibu kota, Jakarta.

Saat tengah sibuk mengikuti berbagai kegiatan di organisasinya, ia kembali ke Jember untuk menyelesaikan skripsi yang lama ditinggakannya. Saat itu ia bertemu dengan dosen pembimbingnya secara langsung, Adi Prasodjo. Dosen tersebut kagum dengan karir organisasi Sarmuji yang mengantarkannya hijrah ke ibu kota. Bahkan sang dosen tersebut

memberikan keringanan saat bimbingan skripsi kepadanya. Sarmuji tidak perlu datang ke Jember , namun cukup mengirimkan disket saja kepada dosennya.

Terjun ke Dunia Politik

Setelah bertahun-tahun menunda penyusunan skripsi, akhirnya Sarmuji dinyatakan lulus dan berhasil meraih gelar Sarjana Ekonomi. Sarmuji mulai dikenal oleh beberapa tokoh bangsa, seperti Salahudin Wahid (Gus Solah) yang mendorong sekaligus membantunya untuk melanjutkan Pendidikan di Univeristas Indonesia. Sarmuji juga ikut membantu Gus Solah saat mencalonkan diri menjadi Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang berpasangan dengan Wiranto.

Setelah menyelesaikan pendidikan S2, Sarmuji bergabung dengan Angkatan Muda Pemuda Golkar (AMPG) yang notabene merupakan organisasi sayap Partai Golkar. Dari AMPG, Sarmuji dipertemukan dengan tokoh Golkar ketika itu, Yorrys Raweyai. Uniknya, meski keduanya berbeda latar belakang baik itu suku, budaya, bahkan background organiasasi namun keduanya merasa nyaman dan dekat dalam berinteraksi.

Singkat cerita, di kepemimpinan Yorrys Raweyai periode kedua di AMPG, Sarmuji dipilih untuk menjadi Sekretaris Jenderal AMPG. Hingga ia bertarung dalam pemilihan legislatif pada tahun 2009 mendampingi Zainudin Amali atau ZA (saat ini menjabat Menpora-red) untuk daerah pemilihan Kediri, Tulungagung, dan Blitar. Sayangnya, di dapil tersebut, Golkar hanya mendapat satu kursi. Sedangkan perolehan suara Sarmuji saat itu kalah telak dari Zainudin Amali yang tentu saja urung melenggang ke Senayan.

Melihat kompetensi yang dimiliki Sarmuji, Partai Golkar mengamanahkan tugas baru, yakni sebagai kordinator tenaga ahli fraksi Golkar di DPR RI. Sebagai koordinator tenaga ahli fraksi, ia harus tahu semua isu yang ada di senayan, karena semua pandangan fraksi harus ia kaji terlebih dahulu sebelum sampai ke pimpinan fraksi.

Saya menganggap politik itu seperti cita-cita ideal. Para filosof Yunani itu mengatakan, politik itu kebajikan umum paling tinggi. Kenapa? karena hanya melalui politik urusan masyarakat itu bisa dikelola, enggak bisa dengan instrumen yang lain, pasti semuanya politik.

Target Politik

Lima tahun berikutnya, dalam kontes pemilu tahun 2014, Sarmuji kembali mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari dapil yang sama. Namu yang berbeda kali ini adalah sosok Zainuddin Amali tidak lagi membayangi perlolehan suara Sarmuji, karena ZA memutuskan pindah dapil ke Madura. Dan Alhamdulillah, pada Pemilu 2014, Sarmuji berhasil melenggang ke Senayan sebagai anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar. Sebelum ditugaskan ikut menakhodai Komisi VI DPR, Sarmuji terlebih dahulu menjadi anggota Komisi XI DPR yang membidangi keuangan.

“Saya menganggap politik itu seperti cita-cita ideal. Para filosof Yunani itu mengatakan, politik itu kebajikan umum paling tinggi. Kenapa? karena hanya melalui politik urusan masyarakat itu bisa dikelola, enggak bisa dengan instrumen yang lain, pasti semuanya politik. Mulai lahir, sampai mati kita terikat dan terkait politik. Lahir perlu akte, akte itu produk politik karena ada Undang- Undang Kependudukan, sampai mati pun kita berurusan dengan politik. Sekolah kita ada Undang-Undang Sisdiknas, itu produk politik. Nikah ada Undang-Undang Perkawinan produk politik, sampe mati kita terkait dengan politik,” terangnya.

Artinya Sarmuji menganggap politik itu jalan yang bisa dimanfaatkan untuk menolong banyak orang. Itu jualah yang menjadi motivasi dasar untuk terjun ke panggung politik tanah air. Ia menganggap politik itu sebagai kekuatan yang menolong (sulthaanan nashiro), karena itu kita mesti menggunakan politik itu semata-mata hanya untuk menolong orang, hanya untuk bermanfaat bagi orang lain. Bahkan atas dasar itu ia prasastikan hal tersebut menjadi nama anaknya, Muhammad Sutojoyo Sulthana Nashir.

Sarmuji mengaku bahwa hidup maupun karir politiknya tidak dipenuhi dengan target. Meskipun di satu sisi, ia mengaku memiliki orientasi yang akan digapai, namun ia lebih legowo dan tidak memaksakan target-target tersebut harus bisa diraih. Apalagi ketika menjadi Anggota DPR, kader salah satu partai politik, sudah pasti akan menjalankan tugas yang diamanahkan kepadanya, apakah itu di legislatif, eksekutif ataupun yudikatif.

Sarmuji bersyukur memiliki Sang Isteri, Luluk Maknuniah, yang juga seorang yang berlatar belakang aktivis dan organisatoris. Sehingga mengerti tugas dan aktivitas sang suami selama ini. Meski demikian, Sarmuji belum melihat bakat organisasi di diri ketiga anaknya, Muhammad Sutojoyo Sulthana Nashir, Prabu Linuwih Muhammad A’dhom, dan Narendra Mukti Muhammad Aqeel. •ayu/es

 

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)