Luluk Nur Hamidah: Hobi Blusukan Menyusuri Hutan dan Gunung

“Setiap gunung punya tantangan, kekhasan, karakter, dan keunikan sendiri. Tidak ada gunung yang bisa diremehkan, semua punya tingkat kesulitannya sendiri. Dan setiap gunung memberikan pelajaran dan pengalaman yang berharga”

Ketika dimintai rekomendasinya, gunang apa yang paling seru dan berkesan untuk didaki, ia menjawab, gunung Lawu dan Semeru sangat direkomendasikan.

Tidak hanya berani dalam menyuarakan aspirasi rakyat, Anggota DPR RI Luluk Nur Hamidah juga memiliki keberanian dalam blusukan menelusuri alam dan menaklukan gunung. Hobi mendaki telah dilakukan Luluk sedari mahasiswi di Kota Malang. Mulai dari bukit di Malang hingga gunung di Sumbawa, ia taklukan dengan rekan-rekannya. 

“Saya punya kelompok teman, kebetulan cowok-cowok juga ya, yang berasal dari beberapa kampus yang berbeda jadi lebih ke temen di luarlah. Tapi, punya kesukaan yang sama. Nah, setiap malam Minggu, kita isi justru dengan latihan fisik dan mencari gunung-gunung terdekat,” tutur Luluk pada Parlementaria. 

Legislator wanita yang menduduki anggota Komisi IV itu pun telah banyak menaklukan gunung. Ia pernah melakukan pendakian di gunung Semeru, Tambora, Lawu, Merapi, Slamet, Salak, hingga ke Nepal. Gunung tertinggi di Indonesia yang pernah ia daki, yakni Rinjani. Namun, ketika dimintai rekomendasinya, gunang apa yang paling seru dan berkesan untuk didaki, ia menjawab, gunung Lawu dan Semeru sangat direkomendasikan. 

Gunung Lawu memberikan kesan tersendiri bagi Luluk. Bukan hanya letaknya yang berada di daerah pemilihannya, gunung Lawu menyimpan keindahan alam yang menakjubkan dan terbilang cukup ramah bagi pendaki pemula. Meskipun juga gunung ini diselimuti beragam kisah misterius dan spiritual. “Walaupun orang bilang sangat erat dengan spiritualitas dan kekuasaan. Tapi, semua gunung juga punya dimensi spiritualitas,” ungkap legislator dapil Jawa Tengah IV itu. 

Cerita menarik tentang Semeru adalah mengenai bukit cinta. Terdapat mitos diantara pendaki ketika melewati bukit cinta, yakni apabila berjalan melewati tanjakan di bukit cinta, dilarang menengok ke belakang, karena konon apabila menengok ke belakang akan putus hubungannya. “Itu, kan, menguji mental, menaklukan kelemahan diri sendiri, dan semua bayang-bayang yang membuat kita khawatir. Itu jadi challenge untuk kita saat mendaki di sana,” cerita Luluk. 

Politisi wanita F-PKB itu, menjuluki dirinya sebagai penikmat. Selain blusukan menelusuri hutan dan mendaki, Luluk juga suka blusukan ke daerah-daerah terutama daerah yang relatif terisolasi, memiliki bangunan arsitektur lama dan juga kampung-kampung yang memiliki tradisi. Ia gemar menikmati kesenian tradisi daerah seperti musik, sastra, dan tarian. “Saya suka nonton Ludruk, saya juga suka menonton Ketoprak, dan Tayub, Reog,” ungkapnya. •gal

Bagian Penerbitan

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)