Lodewijk Fredrich Paulus PENGABDIAN SEORANG PRAJURIT

Langowan, 1957, sebuah kecamatan di Minahasa, Sulawesi Utara. Wilayah yang dingin dan berbatasan langsung dengan Danau Tondano. Penduduknya mayoritas petani. Komoditas yang banyak ditanam di sana adalah cengkeh. Langowan tidak jauh dari Manado, ibu kota Sulawesi Utara. Jaraknya sekitar 55 km.


 

Lodewijk F. Paulus saat dilantik menjadi Pimpinan DPR RI. Foto: Jaka/Man

Syahdan, hari itu bayi mungil menggemaskan lahir. Tangis bayi memeceh kesunyian. Kalender di dinding menunjukkan 27 Juli 1957. Bayi berjenis kelamin laki-laki itu oleh orangtuanya kemudian diberi nama Lodewijk Fredrich Paulus. Lodewijk kecil tumbuh di tengah keluarga sederhana dan penuh disiplin. Ayah Lodewijk adalah seorang tentara.

Masa kecil Lodewijk dihabiskan di Langowan. Ia suka sekali bermain dengan sahabat-sahabat kecilnya di kampung. Permainan favorit Lodewijk adalah perang-perangan. Ia suka membuat senjata mainan dari bambu yang pelurunya dibuat dari gulungan kertas basah. Peluru kertas itu bila kena tubuh, apalagi mata lumayan menyakitkan.

Mengawali pendidikan formalnya, Lodewijk kecil bersekolah di sekolah dasar Langowan. Hanya tiga tahun di sekolah ini, Lodewijk hijrah ke Jakarta mengikuti tugas ayahnya. Dia kemudian melanjutkan sekolah dasarnya di SD Muhammadiyah, Tanjung Priok, Jakarta. Setamat SD, tahun 1970, ia kembali ke Manado dan bersekolah di SMP Negeri 2 Manado.

Bila ditanya, apa cita-citanya sedari kecil? Lodewijk menjawab, ingin jadi tentara. Tekad Lodewijk kecil sangat kuat untuk menjadi tentara. Ia ingin mengikuti jejak sang ayah yang mengabdi di dunia militer. Sejak SMP ia sudah menyiapkan diri menjadi seorang tentara profesional.

MENJADI TENTARA

Tamat SMP tahun 1973, Lodewijk muda melanjutkan sekolah ke SMA 1 Manado. Hanya sampai satu tahun di sekolah ini, ia mengikuti pamannya hijrah ke Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah dengan menaiki kapal kecil. Ia melanjutkan kelas 2 SMA di Luwuk Banggai. Lagi-lagi, di sekolah ini pun ia tak lama. Jelang ujian kelas 2, ia pindah lagi ke SMA Negeri 1 Palu.

Setamat SMA tahun 1976, Lodewijk muda konsisten mengejar cita-citanya menjadi seorang prajurit tentara, seperti diidamkan sejak kecil. Saat itu ia harus mengikuti sejumlah tes untuk masuk AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). “Sejak dulu saya bercita-cita ingin jadi tentara. Jadi apaun rintangannya, saya hadapi. Untuk tes renang, saya belajar renang di pantai, karena waktu itu tidak ada kolam renang,” ungkap Lodewijk.

Mengawali tesnya, ia jalani di Manado, lalu di Palu dan kembali lagi ke Manado. Setelah dinyatakan lulus tes di tingkat daerah, ia pun menghadapi tes lanjutan tingkat pusat di Magelang, Jawa Tengah. Lodewijk bercerita, ketika itu ada 27 orang yang mendaftar AKABRI dari Sulawesi Utara, baik yang ingin masuk TNI Angkatan Darart (AD), Angkatan Udara (AU), Angkatan Laut (AL), dan Kepolisian.

“SEJAK DULU SAYA BERCITA-CITA INGIN JADI TENTARA. JADI APAUN RINTANGANNYA, SAYA HADAPI. UNTUK TES RENANG, SAYA BELAJAR RENANG DI PANTAI, KARENA WAKTU ITU TIDAK ADA KOLAM RENANG”

Yang daftar masuk AD cuma tiga orang. Dan dari 27 orang yang mendaftar dari Manado, sebelas orang akhirnya diterima masuk AKABRI termasuk Lodewijk muda. Empat tahun pemuda Lodewijk digembleng di AKABRI yang sekarang menjadi AKMIL (Akademi Militer). Cita-cita yang didambakannya sejak kecil terwujud. Ia pun mendedikasikan dirinya sebagai prajurit tentara yang berintegritas dan profesional.

Tahun 1981, lulus AKABRI dan berpangkat letnan dua (balok satu). Ia langsung ditugaskan di Komando Pasukan Khusus (Kopassus). “Inilah awal pengabdian saya di Kopassus yang pertama kali ditempatkan di Jakarta. Setelah mengikuti pelatihan komando, saya ditugaskan di Grup 3, Makassar. Saat itu, Menhankampangab (kini Panglima TNI) dijabat Pak Yusuf,” cerita Lodewijk.

Sebagai prajurit, Lodewijk pernah ditugaskan ke Timor Timur. Saat bertugas ia terkena luka tembak, hingga harus dirawat enam bulan di RSPAD. Setelah sembuh, ia kembali ke kesatuannya di Grup 3 Kopassus, Makassar. Tahun 1983, ia ikut seleksi pasukan antiteror dan lulus. Lalu, ditempatkan di Datasemen Khusus 81 Antiteror, Kopassus. “Komandannya waktu itu Pak Luhut Panjaitan dan wakilnya Pak Prabowo. Pak Luhut masih Mayor, Prabowo kapten, dan saya Letnan,” katanya.

12 tahun berkarir di pasukan antiteror, Kopassus, hingga jadi komadan satuan, Lodewijk akhirnya pindah tugas ke Medan, Sumatera Utara menjadi Asisten Operasi di Kodam I Bukit Barisan. Wilayahnya mencakup Sumatra Barat, Sumatra Utara, Riau, dan Kepulauan Riau. Karir militer Lodewijk terus melejit, menunjukkan kecemerlangannya. Tercatat, Lodewijk pernah menempati jabatan Komandan Korem untuk wilayah Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Tangerang.

Tahun 2009, ia naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal dan menjadi Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus. Sebelumnya, ia pernah pula menjabat Direktur Latihan, Diklat AD di Bandung, Jawa Barat. Dan yang tidak pernah ia lupakan dalam karir militernya adalah dipercaya sebagai komandan upacara HUT RI ke-62 tahun 2007 di Istana Negara. Ketika itu ia masih menjabat Danren dengan pangkat kolonel.

“Saya sempat menjadi komandan upacara di Istana Negara. Selama satu bulan saya ikut seleksi. Suara enggak boleh serak dan langkah tidak boleh salah. Tahun 2007 waktu itu, presidennya Pak SBY,” kenang Lodewijk. Memasuki tahun 2011- 2013, Lodewijk kembali ke Medan, kali ini dipercaya sebagai Pangdam Bukit Barisan dengan pangkat Mayor Jenderal.

Dua tahun di Medan, ia dapat tugas baru di Bandung sebagai Komandan Diklat AD hingga pensiun Agustus 2015 dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. Begitulah karir singkat di dunia militer. Pengabdiannya sebagai prajurit militer sangat panjang. Semua ia dedikasikan untuk menjaga pertahanan dan keamanan negara.

PANGGUNG POLITIK

Dari dunia militer, Lodewijk kemudian berkiprah di dunia politik. Berawal dari ajakan seorang teman untuk ikut Munas Partai Golkar di Bali, Lodewijk pun terjun lebih dalam ke panggung politik. Ketika itu, Golkar sedang terpecah menjadi dua kubu, Agung Laksono dan Aburizal Bakrie. Saat Munas, ia diajak mendukung Ade Komaruddin menjadi Ketua Umum Golkar.

Namun, Munas akhirnya memilih Setya Novanto (Setnov) menjadi Ketua Umum. Dua minggu setelah Munas, ternyata Lodewijk dihubungi Setnov untuk bergabung menjadi pengurus Golkar. Ia langsung dipercaya menduduki posisi Wakil Ketua Umum Bidang Kajian Strategis, Partai Golkar. Lodewijk menerimanya dan saat itulah ia resmi berpolitik praktis.

“Terus terang waktu itu saya masih buta politik. Saya juga diberi tugas oleh Pak Setnov menjadi Plt Ketua Partai Golkar Provinsi Lampung. Di situlah saya belajar politik. Saya diminta menyelesaikan masalah partai di Lampung dalam waktu tiga bulan. Alhamdulillah selesai dan saya kembali ke Jakarta sebagai Waketum lagi,” ungkanya.

Berikutnya, dalam perjalanan politik Lodewijk, ia harus menghadapi musibah yang dihadapi Setnov. Golkar pun mengadakan Munaslub dan terpilihlah Airlangga Hartarto menjadi Ketua Umum Golkar. Di bawah kepemimpinan Airlangga, Lodewijk kali ini dipercaya sebagai Sekjen Golkar. Pada Munas berikutnya, Airlangga tetap terpilih sebagai Ketua Umum Golkar, dan Lodewijk kembali dipercaya sebagai Sekjen.

Sementara itu mengawali kiprah politiknya di parlemen, Lodewijk pun diberi kesempatan menjadi calon anggota legislatif (caleg) dari dapil Lampung I. Pada Pemilu 2019, ia terpilih menjadi anggota DPR RI dan duduk di Komisi I DPR yang membidangi politik luar negeri dan pertahanan. Memasuki tahun 2021, Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin mengundurkan diri. Lodewijk akhirnya dipercaya menggantikan posisi Pimpinan DPR yang ditinggalkan Azis. 

Tepat 30 September 2021, Lodewijk dilantik menjadi Wakil Ketua DPR RI, Koordinator Bidang Politik dan Keamanan. Begitulah perjalanan karir singkat seorang Lodewijk F. Paukus dari militer sampai parlemen. Ketika ditanya, apa yang dirasa berbeda antara dunia militer dan politik? “Di militer, kalau panglimanya bilang A, sampai ke Babinsa pasti A. Cuma kalau di politik yang terjadi sebaliknya,” kilahnya, membandingkan kiprah militer dan politik.

HOBI BEROLAHRAGA

Di tengah kesibukannya sebagai wakil rakyat, ia masih bisa menyempatkan diri berolahraga, aktivitas yang menjadi hobinya. Kebugaran tubuh selalu dijaganya. Berolahraga sebetulnya sudah jadi keseharian Lodewijk sejak masih di dinas militer. Hingga sekarang tubuhnya masih terlihat tetap ideal.

Satu lagi hobi yang tidak pernah ia tinggalkan, yaitu menembak. Ini jadi kegemarannya sendiri. Hobi yang satu ini terus membekas dari masa aktif menjadi tentara di Kopassus dulu. Menembak sama dengan melatih insting. “Ketika saya masih Letnan, saya bisa melepaskan 10 butir peluru dalam 9 detik dengan sasaran kepala berjarak 20 meter,” ungkapnya, mengenang masa latihan menembak di Kopassus.

Kini, di usianya yang sudah 64 tahun, Lodewijk masih hobi menembak walau matanya sudah berkacamata plus. Begitulah keseharian Lodewijk. Walau waktunya banyak tersita sebagai pejabat negara, tapi di rumah ia tetaplah seorang ayah dan suami yang bersahaja. Di rumahnya ada istri dan dua anak. Anak pertama mengikuti jejaknya berkarir di militer. Anak kedua kuliah di Universitas Indonesia jurusan Bisnis Internasional.

“Saya menikah agak telat, saat saya berpangkat Mayor, tahun 1995. Waktu itu, usia saya 38 tahun. Usia 41 tahun baru punya anak. Dan anak pertama mau masuk AKMIL dan sudah lulus2020 lalu. Anak kedua kuliah di jurusanBisnis Internasional dengan double degree. Separuh waktu kuliahnya di Indonesia, separuh lagi di Amsterdam, Belanda,” tutupnya. •mh/es

SATU LAGI HOBI YANG TIDAK PERNAH IA TINGGALKAN, YAITU MENEMBAK. INI JADI KEGEMARANNYA SENDIRI. HOBI YANG SATU INI TERUS MEMBEKAS DARI MASA AKTIF MENJADI TENTARA DI KOPASSUS DULU.

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)