Kultur Budaya Masyarakat jadi Basis Pendidikan

Dalam kunjungan kerja Komisi X DPR RI ke Kabupaten Purwakarta Provinsi Jawa Barat, Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda menyatakan Kabupaten Purwakarta sudah memiliki tradisi yang baik terkait dengan pendidikan karakter. 

Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda saat kunjungan kerja Komisi X DPR RI ke Kabupaten Purwakarta Provinsi Jawa Barat. Foto : Devi/nvl

Huda juga menyampaikan, pada hari Sabtu dan Minggu, anak-anak sekolah di Purwakarta diwajibkan mengikuti aktivitas profesi orang tuanya. Kalau orang tuanya adalah seorang petani, maka si anak tersebut diajak ikut bertani. dan bila orang tuanya berprofesi sebagai pedagang, maka anak tersebut akan ikut membantu berdagang.

“Pendidikan karakter memang tidak bisa diajarkan. Pendidikan karakter hanya bisa dicontohkan atau diteladankan. Dan di Purwakarta sudah punya tradisi itu. Pendidikan karakter seperti ini yang mungkin bisa kita ambil untuk bisa dipraktekkan di daerah lain,” ucap Huda beberapa waktu lalu.
Dikatakannya, semua pendidikan yang ada di Purwakarta berbasiskan kultur dan budaya masyarakat. “Seringkali kita temukan sekolah yang sudah tercabut dari akar tradisi masyarakatnya. Kalau di sini sekolah masih menjadi bagian dari sub kultur tradisi masyarakat di sekelilingnya,” kata politisi Fraksi PKB itu.

Di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif (ekraf), ia mengungkapkan, sektor pariwisata di Purwakarta memiliki banyak destinasi wisata yang sudah cukup berkembang bagus. Even-even kebudayaan juga sudah diinisiasi oleh Bupati sebelumnya.

“Pariwisata di sini berkembang karena dihidupi oleh tradisi budaya yang ada di Kabupaten Purwakarta. Karena itu saya meyakini Purwakarta suatu saat bisa menjadi destinasi pariwisata bidang kebudayaan yang bisa dikunjungi oleh banyak pihak,” tandas legislator dapil Jawa Barat VII itu.

Ia mendorong lahirnya desa desa wisata supaya bisa menjadi destinasi alternatif atau destinasi penyangga. Di masa pandemi Covid-19 ini, masyarakat perlu didorong untuk tidak perlu jauh-jauh mendatangi destinasi yang besar, tetapi cukup datang ke destinasi desa wisata, yang biaya yang dikeluarkan juga relatif lebih murah.

Dalami Karakter Wisata Berbasis Budaya di Gunung Kidul

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih. Foto : Eko/nvl
DPR RI Abdul Fikri Faqih ketika memimpin Kunjungan Kerja Reses Komsii X DPR RI ke Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mempertanyakan dampak pandemi Covid-19 pada pemajuan kebudayaan di Gunung Kidul.

“Permasalahan apa saja yang sering muncul terkait pemajuan kebudayaan? Bagaimana dampak pandemi Covid-19 berimplikasi terhadap kebudayaan di Gunungkidul. Apa kendala dan permasalahannya?,” tanya Faqih saat memimpin rapat Tim Kunker Komisi X DPR RI dengan jajaran Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul di Pendopo Kabupaten Gunung Kidul, DIY.

Selain itu, lanjut Fikri, kunker ini juga bertujuan untuk mendapatkan masukan berupa data-data faktual bidang pendidikan, kebudayaan, pariwisata, ekonomi kreatif, pemuda, olahraga, perpustakaan, khususnya dalam masa pandemi Covid-19 dan new normal di Gunung Kidul.

Lebih lanjut politisi Fraksi PKS itu menambahkan, dalam kunker ini juga guna mendapatkan masukan terkait pokok-pokok substansi pembangunan nasional yang dapat dijadikan rujukan dalam pengambilan kebijakan sesuai dengan tugas dan fungsi Komisi X DPR RI.

Sementara itu di sisi lain, Bupati Gunung Kidul Badingah menjelaskan, terkait dengan pemajuan kebudayaan di daerahnya, seperti kesenian khas Gunung Kidul seperti seni tari jelantur dan tayub serta seni musik rinding gumbeng belum sepenuhnya mendapatkan perhatian dari pihak-pihak terkait.

Selain itu para pelaku seni dan budaya belum memanfaatkan sejarah lokal Gunung Kidul untuk memperkuat karakter wisata berbasis budaya. Tak tanya seni dan budaya, pemberdayaan masyarakat dalam mengolah bahan pangan lokal dan meningkatkan mutu kerajinan lokal Gunung Kidul untuk mendukung pariwisata, belum mendapat perhatian sepenuhnya.

Badingah pun mengungkapkan, implikasi pandemi Covid-19 terhadap kebudayaan di Gunung Kidul cukup terasa, terutama pada aspek pementasan seni. Dinas Kebudayaan sempat menghentikan sejumlah pementasan, namun setelah Pemkab memperbolehkan kegiatan kembali berjalan, Dinas Kebudayaan kembali menggelar kegiatan pentas seni berbasis daring dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Pengembangan Pariwisata Cirebon Perlu Disempurnakan

Anggota Komisi X DPR RI Ferdiansyah. Foto : Ria/nvl
Saat memimpin pertemuan Tim Kunjungan Kerja Reses Komisi X DPR RI dengan jajaran Pemerintah Kabupaten Cirebon dan mitra kerja terkait, Anggota Komisi X DPR RI Ferdiansyah menyampaikan, Kabupaten Cirebon memiliki destinasi wisata religi yang banyak diminati wisatawan. Namun potensi destinasi wisata religi itu masih perlu dikembangkan dan disempurnakan untuk meningkatkan minat wisatawan dan roda perekonomian masyarakat setempat.

“Pengembangan pariwisata religi di Kabupaten Cirebon perlu disempurnakan lebih lanjut, karena ada kekurangan baik dari aksesnya, amenitas hingga atraksi,” ungkap Ferdi.

Menurut politisi Partai Golkar itu, penyempurnaan pariwisata di Cirebon perlu didukung pemerintah daerah. “Pengemasan wisata religi ini perlu disempurnakan, pemda perlu mendukung, mungkin bisa dikemas menarik seperti tata cara berpakaian, dukungan sarana prasarana, hingga menampilkan ekonomi kreatif yang dimiliki wilayah,” usul Ferdi.

Senada dengannya, Anggota Komisi X DPR RI Andreas Hugo Pareira mengatakan, Cirebon memiliki potensi  destinasi wisata religi yang perlu dikembangkan. “Wilayah ini sangat strategis. Pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif perlu dibuat konsepnya,” kata politisi PDI-Perjuangan itu.
Konsep pengembangan pariwisata menurut Andreas perlu dibuat pemda.

Pasalnya pariwisata di Cirebon saat ini masih berjalan natural, padahal potensinya besar. “Pemerintah perlu menjadikan pariwisata dan ekonomi kreatif di Cirebon sebagai fokus, jangan dibiarkan berjalan natural, harus diberi dorongan, beri akses agar mereka berkembang,” katanya.

Apalagi, di Cirebon lanjut Andreas ada salah satu tempat ekonomi kreatif yaitu ‘ Istana Kerang’ yang sudah ekspor ke mancanegara dan mempekerjakan masyarakat lokal hingga 300 orang. “Hal-hal seperti ini perlu didukung pemerintah. Kami (Komisi X) sangat mendukung kemajuan  pariwisata Cirebon. Kami minta mereka membuat konsep pengembangan pariwisata dan kami (Komisi X) akan dorong,” tutupnya. l dep,eko,ria/es

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)