Komisi VIII Panjatkan Doa Bagi Korban Bencana NTT

Buntut pernyataan kontroversi Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas dalam Rakernas Kemenag beberapa waktu yang meminta agar doa dari seluruh agama dibacakan dan bukan hanya doa agama Islam, juga sampai ke Senayan.

 
Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI Foto: Oji/nvl

Pada kesempatan Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI dengan Menteri Agama, Anggota DPR RI Fraksi PDI-Perjuangan Ina Ammania meminta Menag untuk memimpin doa bagi masyarakat NTT yang terkena musibah, namun Menag menolaknya. 

“Alangkah baiknya kita berdoa, untuk saudara-saudara kita, ya kita turut bela sungkawa pada masyarakat yang ada di NTT, kebetulan yang ada di depan kita ini adalah ahli agama, jadi semoga keluarga yang ditinggalkan meninggal diterima di sisi-Nya. Mohon Pak Menteri memimpin doa, jadi kita merasa adem bahwa NTT negara harus hadir,” ujar Ina Ammania.

Bukannya menyanggupi permintaan tersebut, Menag justru menolak memimpin doa. Yaqut berdalih bahwa dirinya selaku Menteri Agama tidak mewakili satu agama tertentu saja. “Jadi kalau Menteri Agama yang diminta baca, saya akan minta semua Dirjen Bimas yang membaca, karena ini Kementerian Agama bukan Kementerian Agama Islam,” tuturnya.

Menyikapi penolakan Menag, akhirnya Ketua Komisi VIII DPR RI Yandri Susanto yang mengambilalih untuk memimpin doa. “Karena ada kebijakan Pak Menteri kalau di internal Kementerian Agama dikasih kesempatan masing-masing (membaca doa). Supaya tidak dikasih kesempatan masing-masing, saya saja yang memimpin (doa),” seloroh Yandri.

Dalam kesempatan berbeda Yandri menyatakan bahwa prosedur pembacaan doa yang dilakukan selama ini sudah sangat toleran. Hal itu dikatakannya menanggapi usulan yang pernah dilontarkan Menag Yaqut dalam agenda Rapat Kerja Nasional Kemenag.

“Selama ini sudah bagus berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Ini untuk menghormati semua pemeluk agama yang ada di Indonesia dan sudah berjalan bagus. Biasanya yang memimpin doa akan menyampaikan ini kepada seluruh audiens,” ujar Yandri.

Ia meyakini para peserta kegiatan juga bisa menyesuaikan. Dikatakannya, kalau permintaan Menag akan direalisasikan pada setiap acara maka perlu dipikirkan juga bagaimana pengaturan teknisnya.

“Prosedur selama ini sudah bagus. Kalau yang pimpin doa dalam suatu acara orang Kristen akan memimpin doa secara Kristen dan begitu juga kalau Hindu yang pimpin pasti secara Hindu, dan peserta atau audiens menyesuaikan dengan agamanya masing-masing. Ini sudah kebiasaan yang sangat toleran,” ucap politisi Fraksi PAN itu.

Seperti diberitakan, Menteri Agama Yaqut ingin semua agama yang diakui di Indonesia mendapatkan kesempatan yang sama untuk memberikan doa. Ia juga mengingatkan bahwa Kementerian Agama bukanlah ormas Islam.

Pernyataan Menag itupun akhirnya menuai kontroversi, hingga dirinya pun harus mengklarifikasi atas ucapannya. Yaqut menyatakan, hal Itu hanya bersifat internal di lingkungan Kemenag dan hanya untuk kegiatan berskala besar seperti Munas (musyawarah nasional).  l dep/es

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)