Johan Budi: PRINSIP MENGALIR DAN BERMANFAAT LEBIH BANYAK

Hari menjelang siang, saat Parlementaria diterima dengan hangat oleh Johan Budi di 403, Gedung Nusantara 1 Lantai 4. Sungguh kesan yang berbeda dari citra poker face yang kerap disematkan padanya, terlebih kala masih aktif wara-wiri di media menjadi juru bicara. Meski begitu, suara tegas yang khas seolah tak hilang dari pria berbadan tegap ini.


 

Johan Budi

Ya silakan, duh bulan puasa sih jadi nggak bisa nawarin,” ujarnya sedikit berkelakar mempersilakan duduk sambil menunjuk pada air mineral yang tersedia di atas meja.

Johan Budi bercerita secara singkat tentang 56 tahun kehidupannya, khususnya di 16 tahun terakhir yang membuat dirinya dikenal masyarakat hingga kemudian berlabuh ke Senayan. Semua terangkum hanya dalam satu jam bincang santai di awal bulan Ramadan itu. Berbeda dari tokoh lainnya, tak mudah mencari kisah masa kecil seorang Johan Budi di portal-portal berita.

“Jadi, saya dilahirkan di sebuah desa, di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Saya lahir dari seorang ibu rumah tangga biasa kemudian ayah saya pegawai negeri dulu. Pensiun pegawai negeri,” ungkapnya secara lugas saat membuka cerita tentang kehidupan pribadinya.

Memiliki nama lengkap Johan Budi Sapto Pribowo, pria kelahiran 29 Januari 1966 ini menghabiskan masa kecilnya di Mojokerto, Jawa Timur hingga akhirnya lulus dari SMAN 1 Sooko dan hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan. Baginya, sosok Johan saat remaja termasuk yang cukup nakal dan suka dengan hal-hal yang memicu adrenalin. Tak ayal, banyak yang tak menyangka ia bisa melenggang ke kampus berjaket kuning kebanggaan Ibu Kota.

“Bapak saya tuh bangga banget. Saya dianggap nakal dulu, kan sering balapan (motor). Saya tuh jarang belajar, senengnya naik motor, balapan. Ayah saya tuh bener-bener surprised betul. Tapi bandel saya bukan yang mabok, itu tadi main motor itu. Naik motor, Balapan. Itu saya suka!” sambil sedikit terkikik Johan menggambarkan betapa orangtuanya tak percaya dengan pencapaiannya.

JAKET KUNING DUNIA TEKNIK

Johan sendiri mengaku sebenarnya kala itu, ia pun sempat tak yakin bisa menembus Universitas Indonesia meski sadar menjadikan jurusan Gas dan Petrokimia di Fakultas Teknik UI sebagai pilihan pertamanya dalam Sipenmaru tahun 1985. Hasil yang ditunggu selama 2 bulan itu kemudian mengubah status Johan dari anak desa menjadi anak rantau, lakon yang dijalani hingga saat ini.

Saat itu, semua yang ia pilih dalam Sipenmaru berkaitan dengan teknik, tak ada yang bersinggungan dengan ilmu komunikasi, tidak pula politik.

Dunia kampus tak hanya memberinya ilmu tentang purifikasi bahan bakar fosil dan hal teknis lain yang diajarkan di dalam kelas. Lebih jauh dari itu, justru kemampuan menulis dan berbicara dari bapak dua anak ini diasah di fase ini.

Ketertarikannya di dunia tulis-menulis berangkat dari kegemarannya membaca buku, autobiografi adalah pilihan utamanya. Si anak rantau ini berusaha menyisihkan uang yang didapat dari beasiswa untuk membeli buku setiap bulan, mengenalkan dia pada “orang-orang besar” lewat bacaan.

Jangan bayangkan berapa banyak organisasi yang ia ikuti saat menjadi mahasiswa. Ia mengaku hanya bergabung dengan ikatan mahasiswa, majalah kampus dan klub radio di fakultas teknik. Dua yang terakhir ini kemudian memiliki keterkaitan dengan pekerjaan yang ia geluti selama belasan tahun.

Lulus dari kampus, Johan sempat mencicipi posisi sebagai peneliti di Lembaga Minyak dan Gas Bumi (saat ini- BLU PPPTMGB “LEMIGAS”). Profesi yang sejalan dengan keilmuan yang dipelajarinya selama bertahun-tahun. Karirnya di lembaga ini tak panjang, tak sampai 2 tahun. Kegemarannya menulis justru membawanya hijrah ke dunia jurnalistik.

“Saya itu dulu suka nulis ya. Saya beberapa kali nulis kolom di media, pokoknya di koran-koran itu sebelum saya jadi wartawan ya. Jaman kuliah saya suka nulis, waktu di Lemigas itu saya masih nulis,”

Sebagai orang yang memiliki latar keilmuan eksakta, Johan tak hanya menulis topik teknologi. Tema-tema sosial dan politik juga kerap kali disuarakannya dalam kolom-kolom media massa.

BANTING SETIR KEHIDUPAN

Namun, bisa jadi tahun 1995 adalah titik balik hidupnya. Sosok nan kalem ini ‘banting setir’ menjadi seorang wartawan dari yang semula sebagai teknokrat di bidang energi. Pengalaman menggeluti dunia jurnalistik saat di kampus membawanya diterima di Majalah Forum Keadilan hingga Tempo pada awal 2005.

Ternyata, ‘banting setir’ inilah yang membuatnya benar-benar masuk ke dalam dunia sosial dan hukum. Kemampuan investigasi menjadi syarat mumpuni dirinya untuk masuk ke dalam KPK di luar pejabat kementerian yang direkrut ke dalam lembaga antirasuah ini pada 2005. “KPK baru berdiri Desember 2003, tapi kan belum punya pegawai itu sampai 2004. Nah, saya angkatan pertama yang diseleksi yang direkrut dari luar kementerian,” ujarnya.

Awal mula masuk ke KPK, Johan melamar pada Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat. Tugas-tugas pelayanannya mirip dengan fungsi kehumasan, meskipun belum sampai pada nomenklatur jabatan. Beberapa tahun berjalan, ia diangkat menjadi direktur di posisi itu. Hingga, pada akhirnya di akhir 2006, ia resmi menyandang sebagai Juru Bicara KPK atas penunjukkan pimpinan KPK saat itu.

Berbekal memiliki tanggung jawab sebagai Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat juga sebagai Jubir KPK inilah, karir Johan merambah sebagai Deputi Pencegahan di KPK. Sehingga, dalam kurun waktu kurang lebih 10 tahun di KPK, Johan telah mengenyam banyak asam dan garam hingga harus tiap saat wajahnya muncul di televisi mewakili KPK.

Turbulensi yang sangat tinggi di internal KPK, membuat dirinya memutuskan berhenti pada lembaga yang tumbuh besar bersama dirinya itu. Terhitung pada Januari 2016, ia meletakkan setiap jabatan yang pernah diembannya di KPK.

“Ketika saya keluar dari KPK, anak saya yang kecil itu nanya ‘kenapa ayah mundur?’. Tapi, anak saya yang gede bilang begini ‘kalau itu pilihan terbaik buat ayah ya silakan aja’. Kalau anak saya yang kecil memikirkan nanti ayah kerja apa?,” ungkap Johan.

Nasib baik selalu iringi orang baik. Tak lama undur diri, ia dipanggil oleh Presiden Jokowi untuk menjadi staf khusus atau juru bicara presiden bidang komunikasi publik. Dari yang melakukan assessment terhadap

 

DILARANG PARKIR

Johan termasuk orang menikmati segala perjalanan, tak hanya secara filosofis namun juga lalu-lintas yang sebenarnya. Johan seringkali memilih untuk menyetir sendir dan berjibaku dengan hiruk-pikuk jalanan bahkan hingga berkantor di Senayan. Namun, siapa sangka, di awal masa jabatannya anggota dewan ini pernah dikejar pamdal lantaran dilarang parkir. “Saya mau parkir di gedungnya yang deket air mancur itu. Itu kan ada parkiran kan. Saya masuk lah. Ada pamdal itu. Saya mau parkir, dikejar ‘Oi gak boleh parkir disitu! Itu khusus anggota itu’ saya kaget,” ujarnya sambil menirukan ucapan petugas. Karena merasa ditegur akhirnya Johan memutuskan untuk memindahkan kendaraannya, namun belum juga bergerak ia teringat sesuatu. “Oh iya nggak boleh ya? Saya udah mau keluar itu. Terus saya (ingat) loh saya kan anggota DPR,” ceritanya sambil terkekeh. Melihat mobil yang dikendarai Johan saat itu tak bergerak, sang petugas kemudian menghampirinya. Dengan tenang Johan membuka kaca dan melempar senyum yang kemudian dibalas dengan wajah kaget sang petugas. Tak lama menyadari sosok yang ditegurnya, sang petugas pun meminta maaf. Johan yang sempat bingung mengapa sang petugas bisa mengenalnya, tentu memaafkan peristiwa yang baru saja terjadi.

kinerja pemerintahan, kini ia sadari masuk ke dalam lingkar pemerintahan itu sendiri. Terhitung, jabatan stafsus tersebut diembannya pada awal Januari 2016 hingga Oktober 2019. Ia memilih untuk mengalir saja, tanpa sedikitpun terlintas akan masuk di ranah eksekutif.

“Saya ke (stafsus) Pak jokowi juga nggak by design. Kepikiran ke Pak Jokowi juga tidak. Saya kan sama Pak Jokowi juga nggak kenal,” urainya.

Namun, menjadi jubir KPK, diakuinya, berbeda dengan menjadi jubir istana. Baginya, menjadi Jubir KPK bisa menentukan banyak hal termasuk kerap kali Pimpinan KPK berdialog dengan dirinya. Namun, di lingkaran istana, gaya jubir tersebut berubah. Ia lebih memilih berbicara ke publik, setelah Presiden Jokowi bicara. Sehingga, yang disampaikan adalah murni keinginan presiden.

 

 

KEMEJA DAN GELAS DARI IBU

“Kamu saya beliin baju batik soalnya saya lihat kamu nggak pernah ganti bajunya” Johan menirukan seraya menerjemahkan ucapan sang ibu yang saat itu disampaikan dalam Bahasa Jawa.

Kisah dua lembar kemeja batik itu membawa Johan pada cerita beberapa tahun yang lalu saat ia masih wara-wiri di layar kaca sebagai juru bicara KPK. Menurut sang ibu, pakaian Johan terlalu sering berulang, sehingga beliau pun berinisiatif membeli beberapa helai kemeja untuk sang anak.

“Tapi saya dulu memang baju batiknya sedikit,” ungkap Johan sambil tertawa. Anak ke 7 dari 9 bersaudara itu mengaku hingga kini ia masih menyimpan baju seharga Rp75.000 dan Rp50.000 yang dibeli sang ibu dari uang pensiunan yang diterimanya. Tak hanya itu, Johan juga menyimpan sebuah gelas kaca yang kala itu diberikan sebagai bentuk perhatian ibunda.

“Dikasih sama ibu saya. ‘Ini buat kamu banyak minum’. Perhatian banget ibu saya itu,” cerita Johan tentang gelas yang selalu ada di meja kerjanya bahkan hingga ia bertugas di istana.

URUNG MUNDUR KARENA IBU

Pergulatan batin tak berhenti sampai itu. Setelah tiga tahun mengabdi, ia merasa perlu untuk mengundurkan diri dari istana. Sayangnya, sang Ibu menolaknya. Sebabnya, Sang Ibu menilai Presiden Jokowi adalah orang baik, dan perlu didukung dengan tim yang baik..

“Nah, itu saya sampaikan ke ibu saya. Tapi, jawaban itu saya waktu itu nggak boleh (keluar dari istana). Kata ibu, tunggu sampai Pak Jokowi selesai. Pak Jokowi itu orang baik dia seneng sama kamu. Sehingga saya ditarik gitu,” kenangnya menirukan pesan ibu.

Pasca dialog itu, ia urung undur diri dari istana. Lalu, beberapa bulan sebelum pendaftaran pencalonan legislatif di Pemilu 2019, tawaran dari PDI-P masuk, Pergulatan batin pun kembali terjadi. Tersebab ibunda saat itu telah wafat, Johan berdiskusi dengan anak dan istri sebelum ambil keputusan. Bahkan, dua kali bicara dengan Presiden Jokowi, ia diminta untuk tidak undur diri dulu dari istana karena sebab ingin maju di Pileg 2019.

“Ketika ditawari itu memang ada perdebatan di batin. Nah, anak dan istri saya ajak diskusi, tentunya karena ibu saya udah nggak ada. Kalau masih ada, ibu saya dulu (yang diajak diskusi),”ujarnya.

Saat itu, Johan mengandaikan jika harus memilih antara menjadi seorang Camat atau Bupati, mana yang lebih banyak bermanfaat ke masyarakat. Sama halnya dengan menjadi Anggota DPR, banyak hal yang dapat dilakukan. “Pikiran saya di DPR tuh seperti itu. Bisa melakukan banyak hal kalau membuat undang-undang, membuat peraturan kemudian mengawasi pemerintah,” tegasnya.

Saat itu, Johan mengandaikan jika harus memilih antara menjadi seorang Camat atau Bupati, mana yang lebih banyak bermanfaat ke masyarakat. Sama halnya dengan menjadi Anggota DPR, banyak hal yang dapat dilakukan. “Pikiran saya di DPR tuh seperti itu. Bisa melakukan banyak hal kalau membuat undang-undang, membuat peraturan kemudian mengawasi pemerintah,” tegasnya.

Meskipun demikian, Anggota Komisi III DPR RI ini, tak menampik ada pandangan berbeda dari masyarakat terhadap dirinya saat sudah beralih menjadi politisi. Ada semacam trust yang kurang dibandingkan saat dirinya berada di KPK ataupun istana. Bahkan, belum melakukan hal apapun, predikat sebagai Anggota DPR itu sudah ada stigma sendiri di masyarakat. Terlepas dari kontroversi itu, ia akui juga masih banyak yang respect dengan kedudukan sebagai Anggota DPR.

DPR DAN PASCA 2024

Ada banyak pandangan tersendiri darinya tentang DPR. Menurut peraih penghargaan The Golden Speaker dari salah satu media nasional ini, DPR perlu mengembalikan fungsi utamanya, yaitu Penganggaran, Pengawasan, dan Penyusunan Undang-Undang.

Ketiga fungsi tersebut harus diselaraskan dengan kebutuhan prioritas masyarakat (anggaran), bukan hal yang bersifat pro-kontra di masyarakat (penyusunan undang-undang), dan terus konsisten untuk mengawasi mitra kerja di masing-masing komisi terkait (pengawasan).

“Dulu kan saya di luar, sekarang kan saya pelaku. Ini kan otokritik. Saya ingin ikut melakukan itu. Bisa atau tidak, yang penting kan kita melakukan. Saya yakin yang punya suara seperti saya di DPR juga banyak,” jelasnya.

Di saat sesi wawancara akan berakhir, Parlementaria sempat bertanya kepada Johan Budi terkait rencananya setelah 2024. Diakuinya secara jujur, ia tak pernah merencanakan apapun karir yang dimilikinya. Ia hanya berpikir untuk bagaimana bisa berkontribusi kepada masyarakat. Selebihnya, ia tidak tahu bagaimana ke depannya.

 

“Yang pasti sampai hari ini bagaimana saya punya kontribusi kebaikan bersama melalui fungsi sebagai anggota DPR. Kalau 2024 ya nanti aja 2024 kamu kesini lagi hahahaha,” ujar Johan menutupi sesi wawancara. •rdn,uca/es

 

 

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)