H.A. Bakri HM : Berawal Dari Panjat Pohon Kelapa, Berakhir Di Puncak Senayan

Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Hal itulah yang terus diyakini H.A. Bakri HM hingga kini. Jika saat kecil, Bakri memanjat puluhan pohon kelapa, kini ia berhasil memanjat karir politiknya dari sebuah desa terpencil di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi menuju Ibu Kota Jakarta.


Bakri di ruang kerjanya

Terlahir sebagai anak laki satu-satunya di keluarga, saat usia sekolah dasar, Bakri sudah dididik untuk disiplin dan bekerja keras. Tidak ada kata bermain dalam kamusnya. Sholat, sekolah dan mengaji memang menjadi kewajiban utama Bakri yang tidak bisa ditawar. Padahal anak seusianya tengah bermain dengan riangnya. 

Namun ada kewajiban lain yang juga dilakoninya adalah turut menunggui toko sembako dan kelontong milik sang ibu. Bahkan di akhir pekan sang ayah meminta Bakri untuk membantunya di kebun kelapa. Bakri kerap diminta untuk ikut memetik kelapa. Tak ada lelah bagi Bakri untuk melakukan itu semua. Tubuh kecil Bakri dengan lincah langsung memanjat dengan cepat satu per satu pohon kelapa yang menjulang tinggi dengan rata-rata 10 hingga 15 meter. 

“Pada awalnya memang ada sedikit rasa takut jatuh saat memanjat, tapi rasa itu buru-buru saya kesampingkan. Sebagai anak laki satu-satunya di keluarga kami, saya tentu harus bisa menggantikan posisi ayah, termasuk menjadi petani kelapa yang tentu harus bisa memanjat pohonnya juga,” cerita Bakri kepada Parlementaria. 

Meski demikian, darah wiraswasta dan jiwa bisnis dari sang ibu lebih kental mengalir dalam tubuh Bakri. 

Jiwa bisnis Bakri sudah terlihat sejak kecil, terutama ketika Bulan Ramadhan tiba. Usai sholat tarawih dan ketika libur sekolah, Bakri berjualan kembang api dan sejenisnya. Untung yang tak seberapa itu tak menyurutkan rasa syukurnya karena telah berhasil menjual dagangannya. Uangnya pun langsung ia serahkan kepada sang bunda.

Berbisnis Sejak Muda

Kejarlah ilmu hingga ke negeri Cina. Begitulah kira-kira gambaran kondisi Bakri usai lulus SDN 28/V Sibur Naik, Jambi. Di desanya belum ada SMP, sehingga Bakri pun harus hijrah ke Kota Jambi untuk menuntut ilmu, dan menggapai mimpinya. Ia berhasil sekolah di SMPN 9, Jambi. Untuk sampai Kota Jambi saat itu Bakri harus melewati perjalanan dengan kapal laut selama satu hari satu malam. Memang berat untuk anak seusianya, yang harus jauh dari orang tua. Namun buru-buru ia tampik rasa itu, dengan tekad harus berhasil menjalani semua itu demi masa depan yang lebih baik lagi.

Di Kota Jambi, ia menyewa sebuah rumah bersama beberapa temannya dan mulai berbisnis alias berdagang. Jika libur sekolah tiba, Bakri membeli barang di Kota Jambi untuk kemudian dibawa dan dijual ketika kembali ke desa.

Dagangannya itu ia bawa dengan menumpang kapal laut dengan perjalanan selama kurang lebih satu hari, satu malam. Lusanya ia balik ke Jambi dengan membawa kopra dari kampungnya untuk dijual di Kota Jambi. Tak berlebihan jika Bakri mengaku bahwa sejak SMP sudah memiliki uang jutaan, hasil kerja kerasnya sendiri.

“Sejak SMP saya sudah memiliki uang jutaan,” akunya. Lulus SMP, Bakri melanjutkan sekolah di SMA Xaverius I Jambi. Sekolah yang menurutnya terbaik di jamannya, terlebih lagi dengan kedisiplinan dan etika. Mata pelajaran yang semakin rumit, plus kegiatan sekolah lainnya memang cukup banyak menyita waktunya. Namun hal itu tak lantas menghentikan usahanya. Bahkan, ia mulai mengembangkan bisnisnya. Ia hanya mengirimkan dagangan ke kampung halamannya kepada orang yang dipercayanya. Bakri pun memberanikan diri merintis usahanya di Kota Jambi, dengan membuka toko sendiri.

Berhasil menyelesaikan pendidikan SMA, sejatinya sudah terbilang tinggi untuk ukuran masyarakat di kampungnya. Namun tidak demikian halnya dengan Bakri. Didukung oleh kedua orangtuanya yang berharap sang anak bisa mengenyam pendidikan setinggi mungkin, Bakri pun melanjutkan kuliahnya di STIE Muhammadiyah Jambi Jurusan Ekonomi Pembangunan.

Jadi Kontraktor

Di masa-masa kuliah, Bakri melihat peluang bisnis lain di luar usaha sembako dan kelontong. Ia melihat saat itu pembangunan di Jambi tengah berkembang pesat. Hal itu ditandai dengan banyak teman dan sahabat-sahabatnya yang menjadi kontraktor. Sehingga Bakri pun merubah haluan dengan berdagang bahan-bahan bangunan.

Saat itu tidak sedikit kontraktor yang mengambil bahan-bahan bangunan untuk proyeknya di toko bangunan milik Bakri. Tak berlebihan jika kemudian usahanya itu berkembang pesat. Dan di saat itu pula ia mencoba ‘mencuri’ ilmu dari teman-teman kontraktornya. Hingga akhirnya ia tertarik untuk mengikuti jejak rekannya tersebut dengan menjadi kontraktor.

Proyek pertama yang datang kepadanya adalah tawaran untuk membangun Masjid di salah satu desa tertinggal di Provinsi Jambi, namun dengan dana yang sangat terbatas. Pihak pengelola Masjid hanya memiliki dana 20 juta, sementara dana yang dibutuhkan untuk membuat masjid tersebut sekitar 40 jutaan. Itu menjadi tantangan tersendiri bagi Bakri yang memang baru memulai langkahnya menjadi kontraktor. Dengan tekad dan nekat, ia mengamini untuk mengerjakan proyek pembangunan masjid tersebut.

Singkat cerita, berkat kegigihannya dan niat baik, Ia berhasil membangun masjid tersebut sesuai dengan rencana. Sontak, hal itu mengundang decak kagum dari semua pihak, termasuk dari pemerintah daerah yang notabene sebagai pemberi proyek tersebut. Bagaimana bisa dengan dana yang hanya setengahnya bisa berhasil membangun masjid dengan spesifikasi dan bentuk sesuai yang direncanakan. Usut punya usut, ternyata selain menomboki dari kantong sendiri, ia meminta bantuan saudara-saudaranya untuk menjadi donator pembangunan masjid tersebut.  

Siapa sangka niat baiknya itu berbuah manis. Debut perdananya sebagai kontraktor itu membuka peluang lain. Salah satu proyek lainnya yang berhasil ia kerjakan adalah pembangunan Kantor Gubernur Provinsi Jambi. Sejak saat itu, ia pun berhasil mendirikan beberapa perusahaan.

Bakri saat akan meninjau program aspirasi yang diperjuangkannya
Bakri (kiri) saat mengikuti kunjungan kerja Komisi V DPR RI

Organisasi Sekolah dan Kampus

Meski sempat berpindah kampus, namun akhirnya Bakri berhasil menyelesaikan kuliah dan meraih gelar Sarjana Ekonomi dari STIE Muhammadiyah Jambi.

Di sisi lain, sejatinya pria kelahiran Jambi 15 mei 1968 ini telah aktif diberbagai organisasi sekolah, maupun luar sekolah. Bahkan saat duduk di bangku SMP dan SMA, ia berhasil terpilih sebagai Ketua Osis (organisasi intra sekolah).  Bahkan aktivitasnya di dunia bisnis di Provinsi Jambi berhasil mengantarkannya menduduki jabatan bergengsi dalam organisasi bisnis nasional, diantaranya Ketua Umum Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Provinsi Jambi, Ketua Umum Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) dan Ketua Gapensi (Gabungan Penguasaha Seluruh Indonesia) untuk wilayah Jambi, diantaranya Ketua Umum MES (Masyarakat Ekonomi Syariah) Provinsi Jambi. Kemudian Ketua Umum ICBC (Indonesia Cina Bisnis Concil) Provinsi Jambi.

Bahkan di luar organisasi bisnisnya, Bakri berhasil menjadi Ketua PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia) dan pengurus KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Provinsi Jambi.

Masuk Partai Politik

Dengan modal ekonomi yang cukup besar, Bakri memang aktif dan terlibat langsung alam berbagai kegiatan sosial. Impiannya untuk melihat daerah kelahirannya maju, tidak hanya dari sisi pembangunan infrastrukturnya tetapi juga selalu berupaya untuk berperan dalam menentukan sebuah kebijakan. Tak heran jika kemudian ia mengamini tawaran sahabatnya yang tak lain adalah Gubernur Jambi pasca reformasi Zulkifli Nurdin untuk bergabung dalam partai politik yang diketuainya.

Singkat cerita, Putra dari pasangan H. Musa dan Hj. Yondeng ini bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN) wilayah Jambi. Tak lama, Bakri terpilih menjadi bendahara DPW PAN Jambi dan kemudian terpilih menjadi salah satu unsur ketua di DPP PAN sebagai Ketua Bapilu PAN untuk wilayah Jambi-Bengkulu. Pada tahun 2004, Bakri semakin memantapkan langkahnya dalam dunia politik dengan mengikuti pemilihan calon legislatif.

Dalam pemilihan tersebut, meski berhasil memperoleh suara terbanyak, namun karena aturan saat itu berdasarkan nomor urut, maka hal itu menggagalkan langkahnya untuk melenggang ke Senayan. Baru ketika pada pemilihan umum berikutnya, tahun 2009, dimana aturan tidak berdasarkan nomer urut, melainkan berdasarkan suara terbanyak, Ia pun akhirnya berhasil melenggang ke Senayan meski memiliki nomer urut 4 untuk daerah pemilihan Jambi.

Menjadi anggota legislatif, Bakri duduk di Komisi V DPR RI yang membidangi perhubungan, perumahan rakyat dan pekerjaan umum atau infrastruktur, serta cuaca. Hal itu tentu sangat sesuai dengan latar belakang sebelumnya yakni sebagai pengusaha jasa konstruksi di Jambi. Dan kini, di periode ketiganya menjabat sebagai anggota legislatif, ia tidak hanya duduk di Komisi V DPR RI tapi juga terpilih menjadi Wakil Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI.

Sebagaimana niat dan tekadnya untuk terus berbuat, berjuang bagi masyarakat provinsinya, telah banyak pembangunan di Jambi yang merupakan hasil perjuangannya. Seperti Jembatan Gantung, Revitalisasi Sekolah, Tanggul, Irigasi Desa, Normalisasi Sungai, Halte Sungai, Pelebaran dan Perbaikan, bahkan beberapa bandara dan pelabuhan di Jambi tercipta salah satunya berkat perjuangannya.

Kini, tidak ada target tertentu dalam karir politiknya selain selalu berjuang dan memperjuangkan nasib masyarakat, terutama Provinsi Jambi. “Saya tidak ada target khusus dalam karir politik saya. Saya hanya ingin terus memperjuangkan kehidupan masyarakat Jambi kearah yang lebih baik lagi, baik dari sisi infrastruktur, fasilitas, maupun kesejahteraan lainnya,” pungkas Ketua Umum Forum Pembaruan Kebangsaan Provinsi Jambi tahun 2019 ini. ayu/es

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)