GeNose C-19 Jangan Sebatas Pilot Project

Suasana Antri Tes GeNose C-19 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat. Foto: Arief/nvl

Pandemi yang menimpa Indonesia dan berbagai negara lainnya dalam setahun terakhir ini tak menyurutkan anak bangsa untuk berkarya. Hal itu malah semakin memacu anak bangsa untuk keluar dari kondisi yang serba tidak mengenakan ini. Dan, akhirnya Indonesia boleh berbangga dengan lahirnya GeNose C-19 yang notabene merupakan karya anak negeri.

Apa sebenarnya GeNose tersebut, dan mampukah produk buatan dalam negeri ini “bersaing” dengan produk asing dalam industri kesehatan dalam negeri. Berikut hasil penelusuran Parlementaria.

Maret 2020 menjadi titik awal terdeteksinya Covid-19 di tanah air. Hal itu semakin memunculkan rasa penasaran berbagai pihak untuk meneliti tentang Covid. Mulai dari penyebab, bagaimana pendeteksiannya, serta pencegahannya termasuk di dalamnya penemuan vaksin. 

Di saat bersamaan tim riset dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dikomandoi oleh Kuwat Triyatna mengembangkan alat pendeteksi cepat infeksi Sars-Cov2 melalui hembusan nafas, yang belakangan dinamai GeNose C-19 secara cepat dan akurat.

GeNose C-19 sendiri merupakan singkatan dari GeNose atau Gadjahmada, dan Nose atau hidung. Dilansir dari situs ugm.ac.id, GeNose adalah hidung elektronik yang bekerja dengan sistem penginderaan atau sensor untuk mengenali pola senyawa. GeNose dirancang untuk mengenali pola Volatile Organic Compound yang terbentuk dari infeksi Covid-19 dan terbawa dalam nafas manusia.

Sejumlah tahapan masih harus dilalui sebelum alat ini dapat mulai diproduksi secara massal diantaranya proses uji diagnosis. Untuk uji diagnosis diperlukan 1.600 subjek dengan 3.200 sampel yang diambil dari sembilan rumah sakit, termasuk di antaranya RSUP dr. Sardjito, Rumah Sakit Akademik UGM, dan RSPAU Hardjolukito. Namun sebelum itu inovasi baru dari para peneliti UGM ini telah melalui uji profiling dengan menggunakan 600 sampel data valid, dan menunjukkan tingkat akurasi tinggi, yaitu 97 persen.

Setelah melalui tahapan tersebut, akhirnya 24 Desember 2020 lalu GeNose C19 secara resmi mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan dengan Nomor 20401022883. Menurut Kuwat, setelah izin edar diperoleh maka tim akan melakukan penyerahan GeNose C-19 hasil produksi massal batch pertama yang didanai oleh BIN (Badan Intelejen Negara) dan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) untuk didistribusikan.

Dukungan penuh semua pihak bermunculan untuk inovasi baru ini, tak terkecuali dari DPR RI. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Emanuel Melkiades Lakalena mendorong agar GeNose C-19 bisa digunakan di setiap fasilitas kesehatan dan rumah sakit di seluruh Indonesia. Untuk itu pihaknya akan mengawal dan meyakinkan pemerintah untuk menggunakan alat tersebut.

“Kami akan pantau sertifikasi GeNose serta memberikan dukungan anggarannya, secara politik kita mendorong produk kesehatan dari hasil rapat pemerintah yang bersifat mengikat antara DPR RI dan pemerintah,” tegas Melki.

Diungkapkan politisi Fraksi Partai Golkar ini, tahun lalu sejatinya berbagai inovasi alat kesehatan yang dipamerkan UGM kepada Komisi IX DPR RI saat mengunjungi kampus tersebut tahun lau. Selain GeNose, ada ventilator yang juga ikut dipamerkan saat itu.  Namun memang GeNose yang pengembangannya sangat cepat.

KOMISI VII DUKUNG INOVASI ANAK BANGSA

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Emanuel Melkiades Laka Lena. Foto Arief/Nvl

Tidak hanya itu, Anggota Komisi VII DPR RI Andi Yuliani Paris mengungkapkan Komisi VII DPR RI menghargai seluruh inovasi-inovasi yang diciptakan oleh anak bangsa. Terlebih lagi yang berkaitan dengan penanganan Covid-19. Namun apakah karya anak bangsa itu akan secara utuh digunakan oleh seluruh rumah sakit, puskesmas dan berbagai faskes lainnya?

Pasalnya, pertama, GeNose itu baru diproduksi masih dalam jumlah terbatas. Bahkan saat awal digunakan oleh PT KAI untuk men-screening calon penumpang Kereta Api, konon jumlah GeNose yang diproduksi masih terbatas dan hanya sebatas pilot project.  Kedua, jika melihat kondisi di lapangan, dimana rumah sakit, klinik dan puskesmas yang ada, selama ini masih mengandalkan produk impor. Bahkan tidak bisa dipungkiri adanya ‘mafia’ alat kesehatan impor yang masih bermain di dalamnya.

Hal tersebut, lanjut Andi juga dikeluhkan oleh Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro. Banyak rumah sakit yang lebih memilih menggunakan produk impor dibanding produk dalam negeri. Tidak sedikit perusahaan yang membeli alat rapid antibodi impor, padahal UGM sudah memproduksi rapid antibodi. Bahkan ada pesanan 100 buah saja kemudian dibatalkan, perusahaan tersebut lebih memilih membeli produk dari luar negeri.  

“Makanya saya selalu mengatakan, termasuk saat pembahasan undang-undang sisdiknas Iptek sebelumnya agar negara memberikan kemudahan kepada anak bangsa, termasuk pengurangan pajak 300 persen bagi badan usaha yang ingin mengembangkan ristek dalam negeri,” ujar Andi Yuliani Paris.

Jika Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan ijin edar, artinya sudah ada pengakuan dari pemerintah akan keakuratan dan keamanan penggunaan produk anak bangsa tersebut,  maka sejatinya pemerintah melalui berbagai kementerian dan instansi terkait bisa menggunakan dana-dana Litbang untuk memperbanyak produksi GeNose. Pemerintah juga harus mendorong badan-badan usaha di bidang kesehatan untuk ikut memproduksi dan mengembangkan GeNose.

“Kalau inovasi yang bagus bisa dikembangkan secara massal oleh Kemenristek, maka peran pemerintah harus sampai pada tahap komersialisasi. Oleh karena itu saya ketuk juga Kementerian Industri dan kementerian Perdagangan mewakili pemerintah, agar inovasi itu tidak hanya sampai pada pengembangan, pilot project saja. Namun juga komersialisasi atau penjualannya. Dan di sini saya katakan kalau vaksin merah putih yang sedang kita kembangkan sudah jadi, maka kita harus setop juga vaksin Impor,” pungkasnya. l  ayu/es

Anggota Komisi VII DPR RI Andi Yuliani Paris. Foto : Azka/nvl
saat pembahasan undang-undang sisdiknas Iptek sebelumnya agar negara memberikan kemudahan kepada anak bangsa, termasuk pengurangan pajak 300 persen bagi badan usaha yang ingin mengembangkan ristek dalam negeri

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)