Gangguan Kesehatan Mental pada Usia Produktif

Oleh: Arzaka Raffan Mawardi. Pengamat Psikologi
Oleh: Arzaka Raffan Mawardi. Pengamat Psikologi

Gangguan Kesehatan Mental pada Usia Produktif

“Manusia pada dasarnya merupakan individu sosial yang diciptakan untuk bekerja dan memberikan timbal balik bagi sesama maupun bagi lingkungan”

Pernyataan di atas mengenai tugas manusia ditinjau dari kehidupan sosialnya tentunya terlihat sangat simple bukan? Dalam praktiknya, tentu tidak. Banyak sekali rintangan-rintangan dan halangan yang akan dihadapi oleh kita sebagai manusia.

 Rintangan tersebut tak jarang membuat kita bermasalah baik dari segi fisik maupun mental. Terkadang, banyak orang yang tidak menyeimbangkan kesehatan fisik dan mentalnya. Kebanyakan orang-orang lebih peduli terhadap kesehatan fisiknya daripada kesehatan mentalnya dengan menganggap kesehatan mental dengan tidak serius dan bukan suatu masalah yang urgent. Hal keliru ini lah yang membuat kesehatan mental sekarang ini merupakan sebuah masalah yang genting di Indonesia. 

Tercatat dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, 19 juta penduduk lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi. Selain itu berdasarkan Sistem Registrasi Sampel oeh Badan Litbangkes 2016 menyatakan bahwa data bunuh diri per tahun sebanyak 1800 orang dengan sekitar 50 persen korbannya adalah usia remaja dan usia produktif, yaitu usia 14-39 tahun. 

Masalah mental kerap dialami oleh orang dengan usia produktif,  mengapa terjadi demikian? Hal ini diduga orang dengan usia produktif sudah memiliki tanggung jawab yang sangat besar baik terhadap diri sendiri, keluarga, dan pekerjaan. Fokus pikiran pada usia produktif tentunya berbeda dengan fokus pikiran orang di usia non-produktif. Orang pada usia produktif akan lebih memfokuskan pada pengembangan diri, bekerja dan memiliki penghasilan, dan sebagainya. 

Fokus-fokus tersebut tentunya menguras tenaga yang dapat mengakibatkan lelah baik dari segi fisik maupun lelah dari segi mental,  hal ini lah yang menyebabkan rawannya terjadi gangguan kesehatan mental pada usia produktif. 

Kebanyakan warga Indonesia memilih suatu pekerjaan karena faktor gaji atau upah yang ditawarkan atau posisi yang ditawarkan, sementara posisi tersebut tidak sesuai dengan mereka dan akhirnya mereka bekerja hanya demi gaji, bukan untuk kebahagiaan mereka sendiri. Pengangguran atau tidak memiliki pekerjaan tentunya dapat merugikan kesehatan mental seseorang, akan tetapi bekerja pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan anda dan bekerja di lingkungan kerja yang tidak sehat dapat memunculkan gangguan kesehatan mental juga, lantas apa bedanya dengan pengangguran, kan? 

Mungkin mereka akan berpikir bahwa semakin lama mungkin bisa beradaptasi dengan pekerjaan baru yang tidak sesuai dengan mereka itu, namun kenyataannya pasti berbanding terbalik. Pekerjaan semakin lama akan semakin berat dan sulit karena mereka tidak melibatkan ketertarikan mereka dalam bekerja lalu akan sampai kepada titik jenuh. Karena terus dibebani pekerjaan, mereka tentunya akan merasa tertekan dan akan merasa lelah bekerja yang jika diteruskan akan berpengaruh terhadap keadaan mentalnya. 

Selain dari beban pekerjaan, lingkungan pekerjaan juga dapat mempengaruhi kesehatan mental. Beban pekerjaan yang berat, ditambah lingkungan pekerjaan yang toxic dan tidak suportif menyebabkan tekanan yang berkali-kali lipat. Belum lagi masalah timbul di lingkungan keluarga ataupun adanya tuntutan ekonomi, kesehatan fisik dan mental tentunya akan terpuruk. 

Lalu, yang membuat ganguan kesehatan mental menjadi masalah genting adalah biasanya korban gangguan kesehatan mental itu cenderung memendam rasa lelah dan stres yang ia rasakan sendirian. Hal ini terjadi ketika lingkungan sekitar mereka tidak suportif dan tidak bisa memberikan perhatian yang cukup. Hal tersebut juga dapat terjadi apabila seseorang tidak memiliki sebuah “tempat” untuk berkeluh kesah terkait dengan hal-hal yang menjadi tekanan.

 Sebenarnya orang dengan gangguan kesehatan mental hanya butuh seseorang lainnya untuk minimal mendengarkan apa yang telah mereka alami, apa yang mereka cemaskan, apa yang mereka takuti, dan sebagainya, hal sekecil itu pun tidak dapat mereka peroleh. Alhasil, rasa stres dan depresi yang tertumpuk dalam pikiran dapat terwujudkan kepada aksi-aksi yang merugikan bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang-orang yang ada di sekitar mereka. 

Tak ayal banyak dari mereka menumpahkan semua rasa depresi dan stres mereka kepada hal yang tidak patut dilakukan seperti bunuh diri dan yang paling parahnya mereka bisa saja menyerang orang-orang tidak bersalah yang berada di sekitar mereka. Maka dari itu sikap peduli sesama sangat perlu ditanamkan kepada semua orang, apalagi dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. 

Tanda-tanda gangguan kesehatan mental yang dapat diamati adalah perubahan sikap dalam menjalani aktivitas sehari hari menjadi lebih lemas, lesu, dan gelisah. Oleh sebab itu perhatikanlah orang-orang di sekitar kalian, apakah sikapnya menunjukkan gejala gangguan kesehatan mental atau tidak. Jika mulai menunjukkan gejala nya, langkah awal yang harus dilakukan adalah memberikan perhatian lebih, menanyakan apakah ada sesuatu yang mengganjal belakangan ini, apa yang dirasakan saat ini, dan sebagainya. 

Dengan langkah-langkah tersebut, seseorang akan merasa disemangati dan dipedulikan sehingga dapat setidaknya mengurangi beban dan tekanan berat yang sedang mereka hadapi.

Segala hal yang ada di dunia ini bermula dari pikiran dan juga hati. Oleh karena itu, dibutuhkan kesehatan mental, pikiran, dan hati yang stabil agar dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Dalam rangka menjernihkan pikiran dan mental, hal-hal yang dapat dilakukan adalah seperti istirahat yang cukup, katakan hal-hal positif pada diri sendiri, olahraga, berlibur, dan yang paling penting adalah terbuka kepada orang lain yang kalian percaya, berkeluh kesahlah mengenai apapun yang terjadi kepada mereka. 

Jika hal-hal tersebut sudah dirasa tidak manjur, langkah terbaik yang dapat diambil adalah dengan menyerahkan masalah kepada ahli atau berkonsultasi kepada psikiater dan psikolog. Teknik terapi psikologi yang diterapkan oleh ahli dijamin dapat menjernihkan serta meredakan pikiran yang kalut-malut. Dengan konsultasi yang rutin, akan dirasakan perbedaan yang signifikan dimana akan dirasakan kenyamanan dalam hidup serta kenyaanan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Kesehatan mental berjalan beriringan dengan kesehatan fisik, jadi keduanya merupakan hal yang senantiasa dijaga dalam kehidupan sebab di dalam badan yang kuat harus ada jiwa yang sehat.

Usia-usia produktif mungkin memang menjadi momok bagi kesehatan mental seseorang sebab tugas dan beban yang dirasakan pada usia-usia tersebut  pasti sangat berat. Namun sebisa mungkin, perteguhlah diri sendiri dan jangan sampai terbawa oleh lingkungan dan suasana buruk yang dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan fisik maupun mental. Kehidupan sejatinya akan selalu berubah-ubah, maka kita harus dapat dengan mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan tersebut. Seperti yang dikutip dari teori Charles Darwin, bahwa yang mampu bertahan hidup bukanlah yang paling kuat dan paling pintar tetapi yang paling responsif terhadap perubahan.

Bagian Penerbitan

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)