Fort Rotterdam Saksi Kejayaan Nusantara Hingga Zaman Kolonial

Untuk menyaksikan kembali kemegahan Kota Makassar di masa lampau, menziarahi Fort Rotterdam bisa jadi pilihan. Benteng yang sudah berdiri sejak abad 16 masehi itu menjadi bukti kokoh kejayaan maritim timur nusantara. 

Benteng yang sudah purnatugas ini kini telah menjadi museum daerah di Provinsi Sulawesi Selatan. Bangunan ini berlokasi strategis, di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, menghadap selat yang bernama sama dengan kota ini, Selat Makassar. Hal itu jadi penanda betapa Makassar sebagai kota bandar memang punya pengaruh besar dalam perdagangan sejak abad pertengahan. 

Tak heran, kedigdayaan kota ini tak lepas dari berbagai infrastruktur yang menaunginya, salah satunya Benteng Rotterdam ini. Berawal dengan nama Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang), bangunan pertahanan ini adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. 

Bangunan benteng tampak dari udara. Foto: Ist/aha
Bangunan benteng tampak dari udara. Foto: Ist/aha

Sejarah Benteng

Sebagai museum, pengunjung dapat mengaksesnya dengan mudah. Tersedia tempat parkir yang luas buat motor dan mobil di depan halaman benteng. Tiket masuknya pun hanya Rp5.000, bebas berkeliling di dalam benteng sekaligus memasuki Museum La Galigo yang berada di area yang sama. Mengenai museum yang terakhir akan dibahas nanti. 
Untuk menemani wisata dalam benteng, pengunjung dapat memakai jasa pemandu yang tersedia. Mahmud (41) pemandu di museum benteng ini bercerita bahwa awalnya pada masa Kerajaan Gowa-Tallo konstruksi benteng terbuat dari tanah liat. Namun, pada keemasan pemerintahan Sultan Alauddin material bangunan dihimpun dari berbagai sisi nusantara, seperti batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros, limestone dari Pulau Selayar, kayu jati dari Tanete dan Bantaeng. 
Benteng ini pun jika dilihat dari atas seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Hal itu menerangkan filosofi Kerajaan Gowa yang menampilkan keunggulan penyu dapat hidup di darat maupun di laut. “Sehingga, Kerajaan Gowa digambarkan berjaya di daratan dan lautan,” sebut Mahmud. 
Bertahun-tahun berkonfrontasi dengan Kompeni Dagang Belanda (VOC) Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya takluk juga. Terpaksa menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. 
 

Gaya Kolonial

Sentuhan Belanda masih bersisa sampai sekarang, dimana bangunan di dalam komplek benteng semuanya bergaya kolonial. Gedung dan kantor di dalam area benteng beratapkan genteng dengan langit-langit yang sangat tinggi serta jendela besar. Ventilasi sebanyak-banyaknya sangat diperlukan bagi iklim tropis sebagai penangkal hawa lembab, di tengah penyakit malaria yang menghantui pendatang Eropa di nusantara. 
Jalur prajurit di bastion pada benteng. Foto: Agung/aha
Jalur prajurit di bastion pada benteng. Foto: Agung/aha

Ciri bangunan di benteng ini khas ditemui di hampir setiap bangunan kolonial di Indonesia, Museum Fatahillah di Kota tua Jakarta, misalnya, memiliki teknik pembangunan yang mirip dengan bangunan dalam Fort Rotterdam ini. Struktur pembagian bangunannya juga lengkap mulai dari kantor administrasi, persuratan, barak tentara, penjara, dan gereja, juga tanah lapang di tengah benteng untuk apel prajurit. 

Pengunjung juga dapat menyusuri jalur pertahanan prajurit yang berada di atas dinding benteng. Dinding yang memiliki tebal hingga 2 meter dan tinggi 5 meter ini memiliki lima sisi pertahanan yang bernama bastion. Di lokasi ini ditempatkan meriam yang menghadap keluar benteng. Nama kelima bastion ini juga diambil dari lokasi di perairan nusantara timur, menunjukkan kemegahan benteng yang seakan mampu menghadapi tantangan dari berbagai penjuru. 

Berdiri di atas bastion, pengunjung seolah membayangkan bagaimana gagahnya benteng ini. Siapa saja yang berdiri di atasnya dapat menghamparkan pandangan ke arah lautan. Tempat dimana ancaman luar datang dan benteng hadir untuk melindunginya, juga tempat kekayaan berlimpah menciptakan Makassar sebagai bandar dagang yang paling mahsyur di zamannya. aha

Bagian Penerbitan

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)