Cacar Monyet Terkonfirmasi, Perkuat nakes

Beberapa waktu lalu, Kemenkes RI telah memastikan satu warga negara Indonesia terkonfirmasi menderita Monkeypox. Pasien tersebut merupakan seorang pria berusia 27 tahun, dengan riwayat perjalanan ke luar negeri sebelum tertular.

Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo.
Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo.

Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo mengatakan temuan wabah cacar monyet yang pertama di Indonesia bukan sesuatu hal yang mengejutkan. Mengingat wabah ini sudah merambah hampir ke 100 negara. Ia mengusulkan agar para tenaga kesehatan sendiri diberi pelatihan bagaimana proses penanganan serta pengendalian cacar monyet.

“Para nakes kita harus paham betul apa itu cacar monyet sehingga pada saatnya dia bisa mendiagnosis dengan tepat. Karena itu, mungkin perlu dipertimbangkan bagaimana kalau para nakes diberi pelatihan khusus soal cacar monyet,” jelasnya.

Lebih lanjut, Handoyo mengatakan sebagai langkah pencegahan pemerintah juga dinilai perlu melakukan edukasi pola hidup sehat agar terhindar dari berbagai penyakit menular, termasuk Covid-19 dan cacar monyet.

 

“Terkonfirmasinya cacar monyet ini jangan sampai menimbulkan kepanikan. Tapi ya, marilah kita berusaha sekuat tenaga melakukan berbagai upaya nyata agar wabah ini jangan sampai meluas,” katanya.

Dirinya juga mengimbau jika ada warga masyarakat yang mengalami tanda-tanda yang mengarah kepada cacar monyet, yang bersangkutan harus segera melakukan kunjungan ke fasilitas kesehatan.

Sebagai bentuk langkah antisipasi, Rahmad Handoyo juga mendorong pemerintah menyiapkan vaksin cacar monyet sebagai langkah antisipasi penyebaran penyakit. “Saya kira, nantinya wilayah yang berisiko tinggi dan wilayah-wilayah yang positif tinggi perlu vaksinasi agar cacar monyet ini tidak semakin luas. Artinya, kita harus siapkan kuda-kuda dengan melakukan vaksinasi, karena vaksin 85 persen ke atas bisa memberikan perlindungan dari penyakit ini,” tukas Rahmad.

Libatkan Masyarakat

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI Kurniasih Mufidayati meminta pemerintah untuk melibatkan seluruh komponen masyarakat dalam mencegah terjadinya wabah cacar monyet di Indonesia.

“Kita harus terus meningkatkan kewaspadaan. Pemerintah, dalam hal Kementerian Kesehatan harus mengajak seluruh komponen bangsa di seluruh lapisan. Kolaborasi harus dilakukan oleh pusat dan daerah sampai ke RT dan RW, ke dusun-dusun untuk ikut mencegah terjadinya wabah penyakit baru,” ungkap Mufida.

Politisi PKS tersebut menekankan bahwa selama masa reses lalu, Komisi IX DPR RI tetap melakukan fungsi pengawasan dan meminta Kementerian Kesehatan untuk mengantisipasi penyakit yang kini disebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai Clade. Untuk itu, pemerintah harus menyosialisasikan mitigasi dan informasi terkait penyakit ini hingga ke masyarakat tataran bawah.

Senada, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh mengimbau pemerintah, gencar melakukan sosialisasi mengenai penanganan dan pencegahan penyakit cacar monyet. Menurut Ninik, sosialisasi diperlukan agar masyarakat mendapatkan informasi yang valid di antara pemberitaan Pemerintah harus menyosialisasikan mitigasi dan informasi terkait penyakit ini hingga ke masyarakat tataran bawah. Kurniasih Mufidayati Wakil Ketua Komisi IX DPR RI yang cenderung menimbulkan ketakutan. Ia mencontohkan, akibat kurangnya sosialisasi di masa awal pandemi Covid-19 menimbulkan stigma dan diskriminasi pada orang yang terjangkit penyakit tersebut.

Kemenkes Jajaki Vaksin

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI (30/8/2022), Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI, Mohammad Syahril mengaku masih menjajaki produsen vaksin cacar monyet atau Monkeypox untuk pelaksanaan vaksinasi di Indonesia. Distribusi vaksin cacar monyet ditargetkan akan dilakukan pada akhir 2022

Target alokasi sekitar 10 ribu vaksin cacar monyet diperuntukkan bagi penyintas, kontak erat pasien hingga warga yang memiliki risiko tinggi terpapar cacar monyet.

“Kita lagi penjajakan, kalau memang nantinya berkembang kita sudah menyiapkan itu. Tahap persiapannya ada dua ya, satu harus melalui kajian ITAGI, kita tidak boleh tau-tau vaksin. Yang kedua rekomendasi dari BPOM,” kata Syahril.

Syahril mengakui pengadaan vaksin cacar monyet terbatas lantaran merujuk tingkat penularan cacar monyet. Menurutnya, penyakit ini bukan penyakit dengan tingkat penularan tinggi seperti virus corona (Covid – 19).

Selain itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) belum memberi anjuran apapun terkait vaksinasi cacar monyet secara massal. WHO hingga kini juga belum mengeluarkan rekomendasi vaksinasi massal seperti halnya Covid – 19. “Kedua, vaksin cacar yang dulu pernah ada tahun 1980 itu masih dinilai efektif. Tetapi negara-negara maju karena sudah 40 tahun, mereka mengadakan (vaksinasi cacar monyet) sendiri,” ujarnya. •ann/es

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)