Butuh Kajian dan Pertimbangan yang Matang

PANDEMI Covid-19 belum benar-benar hilang dari dunia, apakah virus ini akan selalu ada, siapkah manusia hidup berdampingan dengan Virus Corona, hal tersebut harus dicari jawabannya.

Masyarakat internasional, tak terkecuali Indonesia masih dalam bayang-bayang Covid-19, namun berangsurangsur tren pengendalian pandemi telah menunjukan kemajuan, beberapa negara mulai bersiap-siap membuat langkah menuju endemi, tak ketinggalan Pemerintah Indonesia masih dalam posisi mengkaji dan mempertimbangkan, seraya menelaah respon masyarakat. 

Transisi ke endemi marupakan suatu proses dimana periode dari pandemi menuju ke arah endemi dengan sejumlah indikator, antara lain laju penularan harus kurang dari 1, angka positivity rate harus kurang dari 5 persen, kemudian tingkat perawatan rumah sakit harus kurang dari 5 persen, angka fatality rate harus kurang dari 3 persen, dan  level PPKM berada pada transmisi lokal level tingkat 1. Kondisi–kondisi ini harus terjadi dalam rentang waktu tertentu misalnya 6 bulan. 

Indikator dan waktu penentuan status endemi bagi Indonesia masih terus dibahas oleh Pemerintah bersama dengan para ahli untuk menentukan indikator yang terbaik bagi Indonesia betul-betul mencapai ke arah kondisi endemi. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh mengungkapkan, saat ini pemerintah masih mengkaji dengan mengacu pada standar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).   

“Peraturan-peraturan untuk menuju endemi kita sudah siap atau belum. Saya pikir itu butuh analisis yang luar biasa untuk pada posisi itu, sekarang ini pemerintah sedang melakukan analisis untuk itu harus ada standar yang sudah dilakukan oleh WHO seperti apa,” papar Nihayatul saat diwawancarai Parlementaria, awal April 2022. 

Saat ini, pemerintah sedang menggencarkan vaksinasi Covid-19 sebagai satu tahapan persiapan sebelum transisi pandemi menjadi endemi. Tak hanya itu pergantian status dari pandemi ke endemi harus memenuhi sejumlah indikator. Salah satu indikator menuju endemi yakni penurunan kasus harian yang signifikan. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Satgas Penanganan Covid-19, berikut rangkuman kasus baru Covid-19 beberapa waktu terakhir:

 
Infografis Timeline Covid-19

Melansir laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), transisi endemi marupakan suatu proses dimana periode dari pandemi menuju ke arah endemi dengan sejumlah indikator, meliputi: Laju penularan harus kurang dari 1 persen. Angka positivity rate harus kurang dari 5 persen. Tingkat perawatan rumah sakit harus kurang dari 5 persen. Angka fatality rate atau kematian harus kurang dari 3 persen. Level PPKM berada pada transmisi lokal level tingkat 1. Kondisi–kondisi ini harus terjadi dalam rentang waktu tertentu misalnya 6 bulan. 

Perubahan menjadi endemi tampaknya tidak akan tergesa-gesa untuk dilakukan karena masih banyak indikator yang masih belum terpenuhi. Nantinya, ketika status sudah menjadi endemi, maka kasus akan tetap ada, tetapi tidak akan mengganggu kehidupan manusia seperti saat ini. Kasusnya tidak akan mengganggu aktivitas di berbagai sektor, seperti kehidupan sosial, kehidupan beragama, dan pariwisata. 

Bahkan Nini sapaan akrab Politisi dari Fraksi PKB tersebut mengungkapkan, perubahan status ke endemi di Indonesia tidak akan terburu-buru, masih ada kehawatiran kenaikan kasus. Selain itu perubahan status ini juga akan memberikan banyak konsekuensi. “Yang menjadi kekhawatiran adalah kenaikan kasus positif Covid-19, yang menjadi ketakutan juga kelonggaran aturan status dari pandemi ke endemi ini bukan hanya status tapi juga konsekuensi di belakangnya,” ungkapnya. 

WHO mengungkapkan seperti apa kondisi sebuah suatu penyakit menjadi endemi. Dalam kondisi endemi, virus ini masih bisa menyebabkan penyakit yang serius dan juga kematian. Saat endemi, virus tetaplah ada dan menular pada tingkat yang lebih rendah, biasanya dengan beberapa bentuk penularan musiman atau peningkatan yang musiman atau wabah di atas situasi endemi. Contoh penyakit yang telah menjadi endemi, tetapi masih menyebabkan kematian di dunia setiap tahun, seperti HIV, tuberkulosis (TBC), dan malaria. 

Sebuah penyakit dari pandemi menjadi endemi itu sebenarnya hanya mengubah label saja dan tidak mengubah apa yang dihadapi sekarang. Penyakit tersebut masih harus tetap dikendalikan dengan baik. Masih dibutuhkan program pengendalian yang kuat untuk mengurangi infeksi, tingkat keparahan, dan angka kematian. Jadi, penting untuk tetap melakukan pengendalian Covid-19, seperti dengan menerapkan protokol kesehatan dan melakukan vaksinasi. 

Menurut Nini, untuk mengedukasi, masyarakat harus bisa memahami kondisinya new normal ini dengan tetap menjaga protokol kesehatan, jangan sampai masyarakat tidak peduli dan tidak pakai masker lagi. “Lewat dari masa transisi dari pandemik ke endemi tetap melakukan aktivitas seperti biasa namun disertai dengan protokol kesehatan, mall sudah dibuka sekolah juga offline, bioskop juga sudah dibuka tapi harus tetap memakai masker, menjaga protokol kesehatan sebagai bentuk antisipasi beradaptasi dengan tetap menjaga protokol kesehatan,” jelasnya. eko/es

JANGAN MENINGGALKAN PROKES, KARENA ANCAMAN VIRUS ITU TETAP ADA. JADI PELONGGARAN ITU PERLU DISAMBUT DENGAN POLA HIDUP YANG BARU BAHWA KITA TETAP WASPADA, BAHWA ANCAMAN COVID TETAP MENGINTAI KITA”

 
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh. Foto:Jka/Pdt

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)