Arif Rahman: Kawal DEWA, DEWI, DEDI

DEWA DEWI DEDI merupakan program pertama kali digagas oleh Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin. DEWA DEWI DEDI merupakan perwujudan dari ekonomi arus baru Indonesia.

Staf Khusus Wakil Presiden Republik Indonesia Arif Rahman. Foto: Runi

Ekonomi arus baru Indonesia adalah ekonomi yang dibangun dari bawah ke atas atau bottom up. Dahulu, konsep ekonomi hanya fokus dari atas ke bawah, sehingga terjadi kesenjangan. Yang ekonomina kuat akan semakin kuat, sebaliknya yang lemah semakin lemah. 

Dengan ekonomi arus baru ini, diharapkan program ekonomi yang diinisiasi oleh pemerintah sampai kepada rakyatnya. Kegiatan ekonomi diharapkan tidak lagi berlangsung hanya di pemerintahan pusat tapi juga di daerah, tidak hanya terpusat di perkotaan tapi menyentuh wilayah pedesaan. Sehingga melalui program DEWA DEWI DEDI ini daerah dan desa mampu memproduksi dan memasarkan produk yang bernilai saing global.

Adalah Arif Rahman, yang merupakan seorang Staf Khusus (Stafsus) Wakil Presiden Republik Indonesia diminta oleh Ma’ruf Amin untuk memotori gerakan Arus Baru Indonesia melalui program Desa Wisata Agro (DEWA), Desa Wisata Industri (DEWI), dan Desa Digital (DEDI).

“Saya ditunjuk dengan Keppres untuk mendukung program-program Wapres dengan concern gambaran tentang visi ekonomi dengan gerakan Arus Baru Indonesia melalui implementasi program ‘DEWA DEWI DEDI’. Kita bersama Pak Wapres saat ini fokus di agrobisnis untuk ‘one village one product’. Dimana setiap desa selain berbisnis agro tapi juga harus masing-masing desa memiliki produk desa unggulan,” ungkap Arif saat tim redaksi Majalah Parlementaria berkunjung ke ruang kerjanya.

Arif menyatakan Wapres Ma’ruf Amin senantiasa berpesan agar berbagai desa bisa memaksimalkan penggunaan dana desa. Dana desa harus digunakan untuk mewujudkan DEWA, DEWI, dan DEDI. 

Dalam catatan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi, hingga akhir 2018, jumlah desa mandiri sudah mencapai 7,55 persen. Capaian tersebut meningkat dari 2.894 desa pada tahun 2014 menjadi 5.559 pada tahun 2018. Sedangkan, desa tertinggal menurun dari 26,81 persen atau sekitar 19.750 desa pada 2014 menjadi 17,96 persen atau sekitar 13.232 desa pada 2018. 

Melalui DEWA, DEWI, dan DEDI yang digagas diharapkan bisa membuat perekonomian di desa menjadi lebih menggeliat lagi.

Lalu kenapa desa digital? Arif menyatakan Wapres ingin membangun desa-desa yang terkoneksi dengan Wi-Fi supaya masyarakat dapat menjual melalui platform marketplace. Arif mengaku telah berkomunikasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk membangun infrastruktur telekomunikasi dan informasi, seperti penyediaan jaringan, perangkat, aplikasi yang sesuai dengan karakteristik penduduk. Termasuk, pendampingan yang tepat bagi masyarakat desa yang mutlak diperlukan dalam pembangunan desa digital.

Arif menyampaikan, selain untuk meningkatkan kualitas desa, pihaknya juga ingin, agar nantinya desa dapat menjadi salah satu penyumbang pendapatan, melalui ekonomi kerakyatannya.

Caranya ialah dengan memberdayakan desa-desa dan melatih para warganya untuk aktif berwirausaha dan berinovasi. Tidak hanya itu, nantinya, para warga desa juga dianjurkan untuk lebih melek digital, dengan tujuan, agar mereka dapat lebih mengembangkan potensi desa mereka melalui sistem digital.

“Jadi nanti warganya kita latih untuk jadi pengusaha yang akhirnya, produk mereka itu bisa dosalurkan ke industri. Atau kalau tidak, bisa kita buat desa itu jadi desa wisata, dijadikan objek wisata. Pemasarannya itu baru pakai digital,” ucap Sekjen MPN PP yang hobi berdiskusi ini.

Saat ini program DEWA, DEWI, DEDI sudah mulai dijalankan di beberapa desa di wilayah Indonesia. Dalam waktu dekat, sebagai pilot project-nya akan digarap di Desa Citorek dan Ketumbiri di Banten dan di Cisarua, Bogor.

Di Desa Citorek, rencananya akan dibangun sebagai desa wisata dengan mengusung ‘negeri di atas awan’. Kemudian di Desa Ketumbiri akan dijadikan desa industri yaitu gula semut skala besar. Sebelumnnya, masyarakat di desa ini membuat dan mengolah gula semut dengan menggunakan cara tradisional. Program desa industri ini akan melibatkan perusahaan seperti Garuda dan Mayora, dengan harapan masyarakat beralih menggunakan mesin-mesin produksi skala industri. Sedangkan untuk desa Cisarua Bogor itu sendiri akan dibangun industri sari wangi dan juga sebagai desa wisata.

Arif Rahman, memulai aktivitas organisasi sejak di Universitas Tarumanagara selaku Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa menjelang peralihan dari masa berakhirnya rezim Orde Baru menuju Reformasi. Arif lalu mengambil peran di dunia jurnalistik sebagai penyiar radio MsTRI FM. Berawal dari tahap itulah, network Arif terbangun melalui sesi wawancara dengan tokoh nasional seperti Akbar Tandjung, Said Aqil Siradj (kini Ketum PBNU) dan (alm.) Gus Dur.

Seiring waktu berjalan, di era awal 5 tahun Presiden Jokowi, ia ditunjuk menjadi Staf Khusus Kementerian Pertahanan. Usai momen Pilpres 2014, Arif Rahman diminta menjadi Stafsus Wapres RI dengan concern visi ekonomi gerakan Arus Baru Indonesia melalui program Desa Wisata Agro (DEWA), Desa Wisata Industri (DEWI), dan Desa Digital (DEDI). l  pun/es

Jadi nanti warganya kita latih untuk jadi pengusaha yang akhirnya, produk mereka itu bisa dosalurkan ke industri. Atau kalau tidak, bisa kita buat desa itu jadi desa wisata, dijadikan objek wisata. Pemasarannya itu baru pakai digital

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)