Amin “Pengabdian Saya adalah Melayani Rakyat”

Amin, hadir sebagai nama sekaligus sosok baru yang kini turut mewarnai panggung politik Indonesia. Tumbuh dalam keluarga sederhana, Amin menjalani hidup tentu bukan tanpa rintangan dan tantangan. Lahir dari keluarga petani, ia ditempa dengan berbagai situasi dan kondisi prihatin, hingga akhirnya mengambil peran di Senayan sebagai Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) PKS Komisi VI DPR RI. 

Waktu telah menunjukkan petang ketika Amin meluangkan waktu menceritakan hidup semasa kecil hingga perjalanan karier politiknya, lewat sambungan telepon kepada Parlementaria.  

“Saya lahir sebagai orang desa dengan kondisi yang sangat pas-pasan. Saat kecil, saya tinggal di Desa Ngabean, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen. Saya dulu sekolahnya di desa. Waktu SD, saya ke sekolah tidak pakai alas kaki, bahasa jawanya nyeker. Dulu jalanan di desa itu belum bagus, masih tanah belum diaspal, jadi njeblok,” tutur Amin membuka kisah dirinya.

Kedua orang tuanya bekerja sebagai petani yang menggarap sawah milik sendiri. Kendati demikian, ia tak hidup diselimuti kemewahan. Sejauh ingatannya, orang tuanya selalu berjuang keras untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga, terutama untuk enam buah hati yang sedang tumbuh pada waktu itu. 

Dilahirkan sebagai anak kedua, ia mengakui keluarga membesarkannya dengan kondisi yang serba pas. Namun, hal itu tidak menyurutkan kedua orang tuanya untuk tetap tegas dan disiplin saat mendidik dirinya dan kelima saudaranya. Pengaruh tersebut membentuknya menjadi pandai untuk membagi waktu belajar, membantu orang tua di ladang, dan ibadah.

“Pulang sekolah saya kerja ikut bantu orang tua, kadang pergi ke sawah. Kalau pas SD itu kan berangkat dan pulang sekolah masih jalan kaki. Mulai Madrasah Tsanawiyah (MTs) baru pakai sepeda ontel, jaraknya sekitar 4 km. Jadi harus mengalokasikan waktu dengan jelas, kapan waktu untuk belajar, kapan untuk mengaji, kapan untuk membantu orangtua,” terang pria kelahiran 6 Juli 1965 ini.

Baginya, kedua orang tua adalah akar yang menjadi pondasi dalam perjalanan hidupnya. Terpatri erat diingatannya tentang cerita bagaimana ayah dan ibu menjalani sulitnya hidup di masa transisi penjajahan Jepang. Tidak ingin anak-anaknya bernasib sama, orang tua Amin selalu memotivasi supaya mereja menjadi pribadi yang mandiri dan berguna bagi orang lain. 

“Mereka (orang tua Amin) selalu bilang, ‘Jangan sampai kamu hidup prihatin seperti itu, sampai untuk makan saja kesulitan’. Saya sering dimotivasi dengan cerita-cerita dan itu membuat saya terpacu untuk berjuang.” ungkap Amin. 

Masa sekolah adalah penanda perjuangan Amin untuk menjadi mandiri dimulai. Sebagai siswa berprestasi peringkat 1 di Madrasah Tsanawiyah (MTs), Amin menantang diri untuk melanjutkan di SMAN 1 Purworejo. Sebuah sekolah menengah atas yang pada masanya terdaftar sebagai sekolah terbaik di Jawa Tengah. 

Amin (baju merah) saat mengikuti kunjungan kerja Komisi VI DPR RI. Foto: Jaka/nvl

Berjarak kurang lebih 27 kilometer dari rumah, ia memutuskan untuk hidup sendiri dengan tinggal di kos sekitar sekolah. Kemandirian Amin diuji pada saat itu. Tinggal sendiri tentu tak mudah. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan pandai-pandai mengelola keuangan untuk bisa bertahan pada berbagai kesulitan.

Setamat SMA, Amin mengakui ia sempat kebingungan ke mana ia harus melanjutkan pendidikan. Keterbatasan informasi saat itu membuat dirinya nekat berangkat ke Jakarta untuk mencari kesempatan yang lebih baik. Di tengah pencarian, ia pun memutuskan bersekolah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). 

Sebelum ia mengambil keputusan ini, rupanya Amin sempat mengikuti tes masuk Universitas Indonesia (UI) dan berhasil. “Namun, saya tertarik dengan STAN itu karena sekolahnya gratis, semua kebutuhannya dibiayai pemerintah, bahkan dulu diberikan uang saku. Saya pikir ini bisa meringankan beban orangtua apalagi adik masih banyak,” ucap Amin.

Menjalani usia 20-an di STAN, Amin mengakui butuh perjuangan menghadapi tekanan supaya mampu bertahan hingga lulus. Seperti besi ditempa menjadi pisau, ia sadar bahwa kematangan emosi dan pribadi yang mantap menjadi kunci yang membuatnya bisa bertahan. Ia bercerita, sebagian teman-temannya di-drop out karena gagal beradaptasi dengan kultur sekolah kedinasan tersebut. 

“Kuliah di STAN bisa saya katakan cukup luar biasa tingkat stresnya. Kalau tidak memiliki kematangan emosi dan kepribadian, ya susah. Sebagai gambaran begini, saya masuk tingkat 1 itu ada 580-an orang. Nanti saat diwisuda D3 itu, tinggal 300 sekian orang. Jadi yang drop out itu kira-kira sepertiganya lah,” jelasnya. 

Usai melalui pendidikan di STAN, Amin memilih ditempatkan bekerja sebagai auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), sebuah lembaga pemerintahan yang bonafit pada masanya. Selama berkarier, Amin meraih penghargaan Satya Lencana Karya Satya pada masa pemerintahan B.J Habibie dan masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Impian saya saat ini tidak muluk-muluk, Saya hanya ingin mengoptimalkan peran saya sebagai anggota DPR, benar-benar bisa melayani rakyat semaksimal mungkin. Kepuasan kita adalah kepuasan ketika kita bisa melayani kepentingan rakyat semaksimal mungkin.”

Pindah Haluan

Dua dekade menjadi abdi negara, Amin telah mengalami berbagai suka dan duka. Hingga akhirnya tiba masa di mana ia harus dipindah tugaskan ke Kendari, sebuah kota di Pulau Sulawesi yang harus ditempuh dengan dua kali penerbangan dari rumahnya di Surabaya kala itu.

Hal ini membuat Amin memikirkan kembali prioritas hidup. Terpisah pulau dengan istri dan keempat anaknya, menjadi pertimbangan Amin untuk memutuskan berhenti menjadi PNS. Ia pun menempuh proses hingga akhirnya berhenti dengan hormat sebagai abdi negara.

Setelah tak lagi menjadi ASN, Amin sempat membantu mengurus usaha sang istri yang memang berprofesi sebagai wirausaha. Hidup memang tidak mungkin tanpa kejutan. Amin bergabung dengan PKS. Sebelumnya, dirinya sempat mendapatkan tawaran bekerja di salah satu perusahaan BUMN dengan kompensasi yang cukup besar. Dengan penuh pertimbangan, ia tolak tawaran komisaris dan lebih memilih terjun ke politik.

Ia memahami banyak orang di sekitarnya mempertanyakan keputusan tersebut. Ia sadar keputusan itu memiliki risiko ketidakpastian. Namun, panggilan untuk mengabdi kembali kepada masyarakat berbisik. Amin melihat ada potensi untuk bisa berkontribusi maksimal. Dengan peran legislatif yang lebih strategis, Amin berharap bisa memberikan dampak yang besar untuk masyarakat.

“Saya masuk ke dunia politik ini karena saya merasa punya pemahaman banyak ya tentang politik, aktivitas politik, lalu sosial. Semasa saya jadi ASN, saya sudah aktif dalam kegiatan sosial lewat lembaga filantropi, jadi dengan terjun ke dunia politik ini saya merasa bisa memiliki peran-peran yang lebih strategis lagi,” ungkapnya.

Awal berkarier di dunia politik, jalan Amin tidak mulus. Ia mengalami dua kali gagal dalam pemilihan legislatif pusat. Tak ingin terpuruk dalam jurang keputusasaan, Amin mengaku belajar untuk berlapang dada, menyerahkan segalanya kembali kepada Yang Kuasa sembari terus berusaha.

“Saya selalu yakin bahwa Allah memberikan yang terbaik. Kalau kita berpedoman pada setelah kesulitan ada kemudahan, kita akan merasakan kesulitan itu sebagai tekanan, tapi kalau bersama dengan kesulitan pasti ada kemudahan, kita bisa menikmati kesulitan itu sebagai didikan dan tempaan agar punya daya tahan dan daya juang yang tinggi.” akunya.

Selama menjadi kader PKS, ia bersentuhan dengan nilai-nilai partai dan berinteraksi dengan orang-orang di dalamnya. Amin juga banyak mengambil dan mengilhami berbagai pelajaran dari para seniornya di partai. Ia mengaku memiliki banyak panutan di PKS selama terjun ke dunia politik.

“Tapi untuk saat ini, kalau ditanya siapa sosok yang paling kuat dan menginsipirasi ya presiden partai. Apalagi beliau juga alumni STAN. Itu senior saya di STAN, dua tingkat di atas saya. Jadi saya masuk STAN, saya sudah mendengarkan nasihat dari beliau, banyak mendapatkan petuah juga dari beliau,” ucapnya.

Dengan kerja keras dan dukungan dari orang-orang tersayang, usaha Amin membuahkan hasil yang membawanya terpilih menjadi Anggota DPR RI Periode 2019-2024 untuk Dapil Jawa Timur IV. Resmi menjadi anggota dewan, Amin langsung mengambil peran penuh untuk berkontribusi bagi masyarakat. 

Selama satu setengah tahun menjabat di Senayan, ada satu kisah yang begitu melekat di ingatannya saat menjejakkan diri menjadi wakil rakyat. Yakni, ketika ia terlibat menyelesaikan RUU Cipta Kerja. Besarnya gelombang penolakan terhadap UU Cipta Kerja dan posisinya sebagai oposisi membuat proses penyelesaiannya begitu berat dan melelahkan. 

“PKS dalam posisi yang menolak. Lalu, sidang dilakukan saat pandemi dengan aturan yang sangat ketat. Sorotan publik sangat luar biasa. Sehingga saya harus hadir fisik terus itu, bergantian dengan 3 orang lainnya dengan anggota PKS. Itu cukup melelahkan, sampai puncaknya saya sendiri yang terakhir baca pandangan fraksi di paripurna. Itu cukup berkesan bagi saya,” ucapnya.

Amin (kanan) bersantai sahabat usai berolahraga. Foto: dok/nvl

Tak bisa dipungkiri bahwa bekerja menjadi wakil rakyat membuatnya kerap dihadapkan dengan begitu banyak kesibukan dan berbagai karakter manusia. Ia harus pintar-pintar membagi perhatian antara bekerja dan keluarga. Itulah mengapa ketika ada waktu luang, ia memilih menghabiskannya dengan keluarga dan kerabat.

“Kalau bersama keluarga itu biasanya olahraga bersama, jalan kaki, kadang naik sepeda, bisa juga refreshing bersama. Saya juga tennis punya komunitas sendiri, gabungan dari kawan-kawan di komplek perumahan. sebut saja padepokan tennis gitu hahaha,” terang Amin.

Amin pun berpendapat, dengan mengoptimalkan perannya di DPR, masyarakat bisa terlayani. Baginya, bisa berbuat sesuatu untuk kepentingan publik adalah kepuasan tersendiri. Ia ingin berperan dan memberi dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat.

“Impian saya saat ini tidak muluk-muluk, Saya hanya ingin mengoptimalkan peran saya sebagai anggota DPR, benar-benar bisa melayani rakyat semaksimal mungkin. Kepuasan kita adalah kepuasan ketika kita bisa melayani kepentingan rakyat semaksimal mungkin,” ucap Amin.

Ajak Rawat Demokrasi

Ketika disinggung soal demokrasi, Amin menyebut saat ini kematangan dan kedewasaan bangsa Indonesia dalam aspek tersebut sedang diuji. Menurutnya, kini ada banyak hal yang menjadikan kehidupan demokrasi di Indonesia tidak sehat. Padahal seharusnya seluruh elemen masyarakat dan pemerintah bisa bersama-sama merawat kebhinekaan dan demokrasi itu sendiri agar tetap hidup. 

“Mestinya masing-masing seluruh elemen bangsa itu mendewasakan diri untuk merawat kebhinekaan. Tapi memang sekarang ini banyak yang saling mengklaim. Mengklaim paling Pancasila, paling NKRI, banyak buzzer-buzzer yang tentu saja menjadikan kehidupan demokrasi itu jadi tidak sehat. Tentu peran pemerintah sangat penting dalam hal ini. Keadilan harus ditegakkan, pemerintah jangan pilih-pilih, harus adil,” katanya.

Terlepas dari kontestasi politik yang telah usai, Amin menilai siapapun pemerintah yang terpilih harus bisa mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa. Mereka, kata Amin, janji-janji politik saat kampanye harus bisa direalisasikan, sehingga masyarakat bisa menikmati kesejahteraan di segala bidang. “Itu harapan saja, semoga diwujudkan dengan sebaik-baiknya,” harap Amin.

Politisi berusia 56 tahun ini juga menyampaikan harapan agar ke depannya semua pihak bisa mewujudkan dasar-dasar negara Indonesia dalam kehidupan nyata, khususnya bagi para pelaku politik. lts/er

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)