#Industri dan Pembangunan

Komisi VII Pertanyakan ‘Cost Recovery’ Terus Naik, Lifting Migas Turun

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Bambang Hariyadi saat memimpin Rapat Dengar Pendapat dengan SKK Migas dan Wakil Dirut PT Pertamina, di ruang rapat Komisi VII, Senayan, Jakarta, Kamis (6/6/2024). Foto: Geraldi/vel.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Bambang Hariyadi saat memimpin Rapat Dengar Pendapat dengan SKK Migas dan Wakil Dirut PT Pertamina, di ruang rapat Komisi VII, Senayan, Jakarta, Kamis (6/6/2024). Foto: Geraldi/vel.

PARLEMENTARIA, Jakarta – Komisi VII DPR RI mempertanyakan peningkatan cost recovery dari tahun ke tahun yang tidak dibarengi oleh kenaikan lifting minyak dan gas bumi (migas). Bahkan lifting migas tersebut cenderung terus menurun.

Cost recovery (pemulihan biaya) dari tahun 2022 ke 2023 terjadi peningkatan dari USD6,1 miliar ke USD9,6 miliar, atau sekitar 58 persen. Begitupun dari tahun 2023 ke 2024 yang diproyeksikan akan menghabiskan USD13,9 miliar. Sementara sejak 3 tahun lifting kita turun terus tapi biayanya naik terus, dan itu tadi diakui Pak Wiko bahwa produksinya turun. Maka, saya ingin mendapat penjelasan lebih detail terkait hal tersebut,” ujar Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Bambang Hariyadi saat Rapat Dengar Pendapat dengan SKK Migas dan Wakil Dirut PT Pertamina, di ruang rapat Komisi VII, Senayan, Jakarta, Kamis (6/6/2024).

Hal senada juga diungkapkan oleh Anggota Komisi VII DPR RI Abdul Kadir Karding. Pihaknya mempertanyakan cost recovery yang terus naik dari tahun ke tahun, namun tidak dibarengi dengan peningkatan kinerja, yakni hasil lifting Migas yang tidak signifikan.

Lebih lanjut Politisi Fraksi PKB ini menduga ada semacam modus tertentu untuk terus menaikan cost recovery dengan melakukan lobi-lobi khusus, yang mungkin hanya menguntungkan seseorang atau individu saja. Jika memang itu terjadi, dan ada kerugian negara di dalamnya, maka Karding menilai hal itu sangat berbahaya, dan harus segera didalami dan dilakukan evaluasi.

“Menurut saya ini harus diperjelas kenapa, kan logikanya kalau tunjangan kinerja naik, kan kerjanya musti bagus dong. Kalau cost recovery ini naik, mestinya lifting kita juga naik dong, dan naiknya tidak sedikit. Naiknya terus, itu yang disebut kinerja. Kalau ini bukan kinerja,” ungkap Karding. •ayu/aha

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *